Icha, putri ke 4 aa gym, ifthor bersama warga dan anak-anak rumah belajar DT serta silaturahmi dengan santri dan relawan DPU DT pada hari Rabu, 2 Juli 2014 di Mushola Al Hakim, Demakan Baru, Tegalrejo Yogyakarta. Teh Icha belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, dari mulai Bogor, DPU DT Bandung dan sekarang di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Pada kesempatan ifthor tersebut, beliau berbicara tentang hakikat sebuah pertemuan. Sebaiknya setiap pertemuan jangan di sia-siakan, karena pada setiap pertemuan ada perpisahan, usahakan setiap pertemuan menjadi jalan untuk bisa bertemu lagi di syurga Nya. Setiap keluar dari rumah, niatkan bismillah untuk bertemu lagi di syurga Nya.

Pertemuan tidak hanya sebatas pertemuan, tetapi untuk menambah persaudaraan dan saling mendoakan, karena doa kita juga tidak hanya untuk keluarga tapi saudara seiman.
Teh icha juga memberikan motivasi untuk menghafal qur’an yaitu dengan cara menginat kembali syafaat dari penghafal qur’an diantaranya adalah dapat memberikan mahkota kepada orang tua saat hari kiamat dan memberikan syafaat kepada 10 muslim lainnya.

Masalah susah mudahnya menghafal serahkan pada Allah, fokus untuk mencari ridho Allah. Dulu, teh icha mulai memahami betapa besarnya manfaat menghafal al Qur’an karena melihat wisudawan tahfidz saat SMA. Teh icha baru mengetahui bahwa para penghafal Qur’an dapat memberikan syafaat kepada 10 orang saat hari kiamat nanti.

Dari situlah, Teh Icha mulai meniatkan untuk memiliki keluarga penghafal dan niat itu terus dipupuk hingga sekarang tidak menyangka ternyata bisa menghafal al Qur’an hingga 30 Juz dan diwisuda pada tahun 2013 kemarin. kita sudah memiliki niat menghafal Qur’an saja sudah merupakan anugerah, karena tidak semua orang diberikan hal itu. Selanjutnya tinggal berdoa dan berusaha agar niat itu terus terjaga.

Allah menitipkan al Qur’an kepada hamba Nya dengan berbagai cara, misal dengan memahami ilmu al Qur’an, dapat mengajarkan al Qur’an kepada orang lain, atau menghafalnya. Jika sudah niat menghafal, walaupun awalnya bukan murni karena Allah, minta pada Allah untuk dituntun, tak perlu memikirkan susah gampangnya, sedikit banyaknya atau cepat lambatnya menghafal. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana menjaga niat baik tersebut dan agar menjaga hafalan yang sudah kita dapatkan, karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Kita juga harus menjaga untuk menjauhi maksiat.

Buatlah target untuk menghafal Qur’an dan tuliskan dengan niat sungguh-sungguh dan menggebu sehingga Allah akan melihat kesungguhan kita. Seperti yang Teh Silmi (rekan teh icha) sampaikan bahwa kita harus mendahulukan al Qur’an, jika kita dihadapkan dua tugas antara kuliah dan menghafal Qur’an, maka letakkanlah al Qur’an selalu dihadapan kita, baik saat mengetik didepa laptop dan mengerjakan tugas, agar kita dapat mengulang hafalan walau satu ayat disela-sela mengerjakan tugas. Jangan lupa untuk terus bersyukur kepada Allah atas keadaan kita, selalu kirimkan al fatihah untuk Nabi dan orang tua kita sebelum membaca al Qur’an, usahakan untuk wudhu dan sholat sunnah setiap bangun tidur. Kerjakan sholat sunnah dan setoran hafalan sebelum melakukan hajat kita misalkan skripsi, sidang, menghadap dosen dan lainnya.



Setelah berkenalan dengan santri beasiswa mahasiswa-KU dan berbagi pengalaman seputar menghafal Qur’an, akhirnya tiba saatnya untuk sholat Isya dan kamipun mengambil kesempatan untuk berfoto bersama, tak lupa Teh Icha memberikan kenang-kenangan untuk teman-teman santri dan relawan DPU DT Yogyakarta.