Lu’liyatul Mutmainah
Santri Beasiswa Mandiri 7
Dompet Peduli Umat Daarut Tauhid 
Yogyakarta
Islamic Banking Department
State Islamic University of Sunan Kalijaga
Yogyakarta

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam membangun peradaban di masyarakat. Azyumardi Azra (2008, 35-36) mengaitkan pendidikan dengan budaya dan agama sebagai kekuatan penanaman nilai bagi peserta didik. (http://cerdasaisyah.blogspot.com). Pendidikan Islam dapat maju dengan pengembangan sisi moral atau akhlak ditambah materi-materi sosial yang dapat memantapkan penguasaan pendidikan itu sendiri. (Roqib, 2009: 4).
Membaca dan menulis merupakan pintu bagi pendidikan Islam, hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Alaq [96]:1 yang diturunkan sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Realita yang ada saat ini adalah kurangnya semangat membaca dan menulis oleh umat Islam, padahal tradisi ini pada zaman dahulu telah melahirkan banyak cendikiawan dan tokoh keilmuan yang diakui dunia. Dalam rangka menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang telah dibangun nabi diperlukan penggalian kembali konsep dan pemikiran yang bersumber dari Al-Qur’an, hadits, dan pemikiran jenius dari tokoh-tokoh muslim, khususnya di bidang pendidikan. (Roqib, 2009: 4)
Dengan adanya program yang merefleksikan nilai-nilai ketauhidan dan kenabian dalam pendidikan diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang memiliki sikap dan mental yang baik, mandiri dan kaya akan spiritual serta nilai-nilai keislaman.

PEMBAHASAN

Pendidikan Islam
Istilah pendidikan memiliki beragam pengertian, Nurcholis Madjid mendefinisikan pengertian pendidikan di dalam Al-Qur’an yang disebut dengan tarbiyah mengandung arti penumbuhan atau peningkatan yang meliputi dua sisi, yaitu: pertama, segi jasmani yang cenderung mengarah kepada usaha untuk memberikan perhatian kepada pertumbuhan seorang anak manusia dan kedua, segi bukan bersifat jasmani yakni penumbuhan dan peningkatan potensi positif seorang anak agar menjadi manusia dengan tingkat kualitas yang setinggi-tingginya dan mengarahkan menjadi baik.(http://imanilmuamal82.wordpress.com)
Sedangkan Roqib (2009: 14) memberikan pengertian pendidikan yang dalam bahasa Arab disebut tarbiyah merupakan derivasi dari kata rabb (QS. Fatihah[1]:2), sehingga pendidikan dalam konteks ini terkait dengan gerak dinamis, positif, dan kontinu setiap individu menuju idealitas kehidupan manusia agar mendapatkan nilai terpuji. Aktivitas individu tersebut meliputi pengembangan kecerdasan pikir (rasio, kognitif), dzikir (afektif, rasa, hati, spiritual), dan keterampilan fisik (psikomotorik).
Pendidikan merupakan usaha atau proses perubahan dan perkembangan manusia menuju ke arah yang lebih baik dan sempurna.(Moh.Roqib, 2009: 18). Imam Bawani  menjelaskan bahwa pendidikan Islam dalam konteks perubahan ke arah yang positif ini identik dengan kegiatan dakwah yang biasanya dipahami sebagai upaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. (Roqib, 2009: 19).
Kerterkaitan pendidikan dengan Tuhan ini secara profetik dipandu oleh kitab suci Al-Qur’an melalui proses pewahyuan secara berangsur-angsur sebagai proses pembimbingan Allah kepada Nabi dilanjutkan dengan penyiaran ajaran Nabi kepada manusia. 
Berbicara mengenai pendidikan, maka peran serta pendidik sebagai pihak yang mentransferkan ilmunya sangat penting untuk dipahami. Muhammad al-Abrasyi dalam Ruh at-Tarbiyah wa at-Ta’lim memberikan syarat kepribadian yang harus dimiliki oleh pendidik yang baik. Syarat kepribadian pendidik itu adalah (a) zuhud dan ikhlas, (b) bersih lahir dan batin, (c) pemaaf, sabar dan mampu mengendalikan diri, (d) bersifat kebapakan dan keibuan (dewasa), dan (e) mengenal dan memahami peserta didik dengan baik (individual maupun kolektif). (Moh.Roqib, 2009: 44).

Misi Kenabian
Kata Profetik berasal dari bahasa inggris prophetical yang bermakna kenabian atau sifat yang ada dalam diri seorang nabi. Sifat yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual juga menjadi pelopor perubahan membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan. Secara definitif, pendidikan profetik dapat dipahami sebagai seperangkat teori yang mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial, melakukan perubahan, dan mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik dimulai dari dunia pendidikan. (http://www.ittifaqiah.com)
Salah satu tokoh pendidikan profetik di Indonesia adalah Kuntowijoyo (alm), paradigma pendidikan profetik beliau mengandung tiga orientasi sekaligus, yaitu: Pertama, emansipasi/humanisasi yang merupakan implementasi dari amar ma’ruf. Kedua, liberasi sebagai terjemahan dari nahi munkar. Ketiga, transendensi yaitu terjemahan dari tu’manina bi Allah yang artinya beriman kepada Allah, gagasan inilah yang menjiwai proses humanisasi dan liberasi dibelenggu transendensi. Konsep yang digagas oleh beliau merupakan penerapan dari Surat Ali-Imran[3]: 101 yang artinya: “Engkau adalah ummat terbaik yang diturunkan/dilahirkan di tengah-tengah kehidupan manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.”

Implementasi Pendidikan Profetik Ala Kuntowijoyo  Dalam Program Beasiswa Prestatif
Program beasiswa prestatif  adalah program yang disusun dan ditawarkan untuk tujuan pemberian bantuan biaya sekolah, sekaligus pemberian akses dan kesempatan meningkatkan pengalaman sikap mental membangun kedewasaan, kemandirian, enterpreneurship, serta refleksi penerapan nilai-nilai keyakinan dan spiritual Islam yang diperuntukkan bagi siswa/siswi pelajar sekolah menengah pertama dan atas.
Dengan mengusung visi untuk membangun generasi mandiri berprestasi dan misi memberikan kemudahan akses pendidikan, menumbuhkan karakter yang baik dan kuat, membangun generasi mandiri, berjiwa enterpreneur dan leadership, meningkatkan pemahaman keagamaan, dan meningkatkan prestasi akademis. Program bea prestatif diharapkan dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan kecerdasan, meraih prestasi, memotivasi siswa, dan menciptakan sumber daya insan yang berakhlaq mulia dan berjiwa Qur’ani.

Beberapa implementasi nilai-nilai kenabian yang dilakukan dalam program bea prestatif ini antara lain:
1. Menggunakan sumber akhlak baik seperti yang dirumuskan oleh Imam Ghazali, yaitu Al-Qur’an, sunnah nabi, dan akal fikiran. (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007: 21). Dengan rangkaian program pembelajaran dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an di setiap pertemuan merupakan pencerminan dari salah satu sumber yang utama.
2. Pemantauan dan evaluasi oleh pendamping atas amalan harian yang dilakukan oleh para peserta dalam meningkatkan ibadah sehari-hari seperti sholat jamaah, sholat tahajud, sholat dhuha, puasa sunnah dan lainnya merupakan sarana untuk meningkatkan kedekatan kita sebagai manusia terhadap Sang Khaliq dan pengamalan ibadah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
3. Pemberian materi halaqah dan tanya jawab antara pendamping yang merupakan peserta beasiswa mandiri dari kalangan mahasiswa di perguruan tinggi dengan siswa/siswi tingkat SMP/SMA yang disesuaikan dengan tema yang telah disusun dalam kurikulum meliputi ketauhidan, akhlaq dan motivasi merupakan kegiatan utama dalam rangka menambah wawasan keilmuan yang diolah dengan pola pikir sistematis yang dibangun secara integratif agar aplikatif dan dapat dirasakan dampak positifnya secara langsung oleh penerima materi.
4. Adanya problem solving dengan tema bebas sesuai kebutuhan peserta beasiswa prestatif merupakan salah satu fasilitas untuk memotivasi dan pemberian solusi melalui pengalaman empiris dan rasional berlandaskan nilai-nilai keislaman sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW saat menghadapi problematik yang ada di masyarakat pada masa itu. Dengan adanya problem solving ini diharapkan dapat menguatkan ukhuwah dengan rasa persahabatan yang terjalin dan keterbukaan antar pihak.
Program beasiswa prestatif ini selain berorientasi pada pemberdayaan peserta didik SMP/SMA, juga bermanfaat bagi penerima beasiswa mandiri dalam rangka pelatihan dalam membina masyarakat. Program ini juga memungkinkan terbukanya peluang bagi Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Umat Daarut Tauhid untuk menghimpun dan menyalurkan zakat dari para donatur dengan cakupan yang lebih luas dan pengembangan serta pemberdayaan masyarakat dengan informasi yang dapat diperoleh dari para penerima beasiswa prestatif di sekitar tempat tinggal mereka.
PENUTUP

Urgensi penanaman nilai-nilai profetik menuju ke arah tindakan yang humanis, liberasi, dan transendensi seperti yang digagas oleh Kuntowijoyo tidak dapat terlepas dari implementasi tujuan pendidikan yang diharapkan dengan berlandaskan ajaran Islam.
Pendidikan Islam memegang peranan penting dalam melahirkan sumber daya insan yang memiliki integritas antara keilmuan secara umum dan kekayaan pemahaman mengenai agama Allah. Sehingga dapat berperan dalam masyarakat tidak hanya dalam membangun umat tetapi juga untuk mengambalikan semangat ketauhidan dalam kehidupan yang dinamis di era global saat ini.
Harapan dari beberapa pihak tentang program-program yang telah berjalan di Dompet Peduli Umat Daarut Tauhid terutama dalam program beasiswa prestatif adalah adanya program sejenis dapat diterapkan juga kepada siswa/siswi tingkat sekolah dasar mengingat jumlah peserta didik di tingkat SD/MI cukup banyak dan agar penanaman nilai-nilai kenabian ini dapat dikenalkan kepada masyarakat di usia sedini mungkin.
Demikian pemaparan penulis tentang program beasiswa prestatif dari penulis, semoga bermanfaat bagi kita semua terutama bagi penulis sendiri. Saran dan kritik yang membangun diharapkan oleh penulis untuk perbaikan di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Roqib, Moh. Ilmu Pendidikan Islam. (Yogyakarta: LkiS, 2009)

Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi. (Jakarta: Mizan, 2008)

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian 3 Pendidikan Disiplin Ilmu. ( PT Imperial Bhakti Utama, 2007)

http://cerdasaisyah.blogspot.com/2012/04/c-behavoururldefaultvmlo.html diakses pada hari Jumat, 24 Mei 2013 pukul 12.07 WIB

http://imanilmuamal82.wordpress.com/2010/09/13/pendidikan-islam-profetik-integrasi-islam-san-ilmu-menuju-pendidikan-yang-humanis-liberatif-dan-transendentif/ diakses pada hari Jumat, 24 Mei 2013 pukul 11.57 WIB

http://www.ittifaqiah.com/ar/Artikel/pendidikan-profetik-versi-kuntowijoyo.html diakses pada hari Senin, 27 Mei 2013 pukul 18.16 WIB)