Disusun Oleh :

SYAFIUL AMLIN

(bea mandiri VII)

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

PENDAHULUAN

DPU-DT adalah suatu lembaga amil zakat nasional yang didirikan oleh guru kita K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym). DPU-DT adalah singkatan dari Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid yang berpusat di Bandung, Jawa Barat. Sedangkan cabang DPU-DT yang ada di Yogyakarta berdiri setelah tragedi gunung merapi meletus tahun 2006. DPU-DT cabang Yogyakarta memiliki program pemberdayaan masyarakat, diantaranya misykat, DTM, serta pembinaan beasiswa prestatif bagi siswa SMP dan SMA.Disini saya akan menjelaskan mengenai misykat di daerah pleret, bantul. Disana ada misykat yang bernama Fastabiqul Khoirot. Di dalam pelaksanaan misykat disana, sudah bisa dikatakan mandiri.sehingga sudah dapat dilepas oleh pihak DPU-DT. Akan tetapi, pihak DPU-DT saat ini masih memantau perkembangan mereka dengan mengutus mahasiswa bea mandiri untuk mengisi semacam menthoring ke-Tauhidan bagi para ibu-ibu anggota misykat selain sharing mengenai perkembangan program misykat yang telah berjalan disana. Bagi mereka, program misykat yang dikhususkan bagi masyarakat yang sudah berkeluarga dan dhuafa ini sangat membantu meningkatkan perekonomian mereka.

  1. RUMUSAN MASALAH
Di dalam misykat oleh ibu-ibu warga masyarakat setempat secara garis besar tidak ada masalah yang serius, akan tetapi pernah terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan DPU-DT. Ketika kami berkunjung kesana,kami bertmu dengan ibu sutirah (anggota misykat). Ibu dua orang anak ini mengatakan bahwa pada tahun lalu, ada sekelompok mahasiswa yang datang kesana (njati, wonokromo) dan mereka datang mengatasnamakan DPU-DT (bea mandiri). mereka kesana hanya bermaksud untuk mencari data atau meminta laporan keuangan misykat fastabiqul khoirot kepada bendahara saat itu juga. Padahal keuangan misykat belum dijilid atau masih berupa coret-coretan, sehingga mahasiswa tersebut meminta atau bisa dikatakan menyuruh bendahara untuk segera menyusun laporan keuangannya. Akhirnya ibu bendaharapun menyanggupinya karena menganggap bahwa itu adalah permintaan pihak DPU-DT, padahal itu hanyalah untuk kepentingan mereka sendiri yang secara individual mendapatkan tugas/ kewajiban dari DPU-DT sebagai syarat untuk mendapatkan beasiswa. Padahal ibu-ibu misykat sudah merelakan waktu aktivitasnya sehari-hari untuk memenuhi permintaan tersebut, ternyata malah disalahgunakan. Yang lebih parahnya, mereka datang untuk pertama dan terakhir kalinya.  

  1. PEMBAHASAN
Dalam menanggapi masalah ini, kita harus memperkenalkan diri terlebih dahulu dan menjelaskan apa maksud dan tujuan kita datang kesana secara jelas, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari warga masyarakat setempat. Kemudian kita harus meyakinkan kepada warga masyarakat, khususnya anggota misykat bahwa kita tidak seperti itu serta memberikan motivasi dan optimisme kepada masyarakat supaya kita dapat diterima disana sebagai pendamping untuk beberapa bulan ke depan. Selanjutnya dari pihak DPU-DT juga harus memberitahukan kepada masyarakat terkait bahwa aka nada anak-anak mahasiswa bea mandiri yang akan mengisi menthoring kesana, sehingga dari pihak masyarakat juga percaya khususnya untuk pendampingan pertama, serta juga dapat sebagai koordinasi bagi pihak-pihak yang terkait, dalam hal ini anggota misykat, DPU-DT, serta mahasiswa.

  1. KESIMPULAN
Di dalam melakukan suatu kegiatan yang sifatnya pemberdayaan masyarakat, dalam hal ini khususnya Misykat Fastabiqul Khoirot diperlukan adanya kordinasi antara pihak DPU-DT, warga anggota misykat, serta bea mandiri, sehingga dapat meminimalisir kesalahfamhaman diantara yang bersangkutan. Kemudian DPU-DT juga diusahakan untuk sering-sering memantau para bea mandiri yang ditugaskan untuk mengisi kajian disana, sehingga dari pihak bea mandiri juga menjadi lebih antusias karena mendapat perhatian serta bimbingan dari pihak DPU-DT cabang D.I. Yogyakarta. Mungkin sekali-kali jika pihak DPU-DT memiliki hibah dana dapat digunakan untuk memanggil seseorang yang ahli/berpengalaman dibidang DTM dan Misykat untuk mengisi sekaligus sharing dengan warga masyarakat yang bersangkutan, sehingga pemberdayaan DTM dan Misykat dapat berkembang.