Oleh: Sitri Kurnia Haya (UIN Suka Jogja Penerima Beasiswa Mandiri VII)
A. PENDAHULUAN
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sejak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, jumlah penduduk miskin cendrung bertambah dari tahun ke tahun. Data BPS Februari 2005 mencatat jumlah penduduk miskin lebih kurang 35, 10 juta, kemudian pada Maret 2006 angka tersebut menjadi 39,05 juta.
Pada saat krisis global seperti saat sekarang ini di mana pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana, angka kemiskinan itu sudah dapat dipastikan akan semakin bertambah. Biasanya yang paling menderita akibat kemiskinan itu adalah perempuan. Salah satu usaha yang dilakukan oleh perempuan untuk keluar dari jeratan kemiskinan adalah melakukan usaha di sektor informal meskipun pendapatan, perlindungan hukum dan jaminan kesejahteraan terhadap mereka masih relatif rendah.
Sebagian besar mereka hanya mampu menjalankan kegiatan usaha di sektor mikro, kecil dan menengah (UMKM). Berdasarkan data Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), perempuan mewakili 60 persen dari seluruh jurnlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ada di Indonesia dengan rincian, 0,13 % perempuan berada di usaha menengah, 6.90% berada di usaha kecil dan 92,97% berada di usaha mikro.
Islam tidak melarang perempuan untuk aktif di dunia usaha apalagi jika tujuannya untuk menghindari kemiskinan. Jika kita telusuri kembali sejarah Islam, kita akan menemukan bagaimana perempuan meraih kesuksesan dalam hidup melalui dunia usaha yang digelutinya. Ummul Mukminin Siti khadijah misalnya, adalah gambaran sosok perempuan muslimah yang sukses tersebut.
Dengan kepintarannya dalam dunia usaha, beliau mampu mengembangkan bisnisnya hingga ke luar negri (Syam) dan memperoleh untung yang besar. Dan dengan keuntungan yang besar itu pula beliau mampu mensponsori perjuangan suami beliau yang tercinta, Baginda Rasullah SAW menyebarkan ajaran Islam.
Islam juga membenci kemiskinan, karena kemiskinan akan mendekatkan pada kekufuran. Semestinyalah kemiskinan itu harus dikurangi. Salah satu konsep yang ditawarkan oleh ajaran Islam untuk mengurangi kemiskinan adalah melalui zakat. Hal ini dapat dilihat dari golongan orang yang berhak menerima zakat, yaitu fakir miskin, amil, muallaf, riqob, gharim, ?sabiiillah, dan ibnu sabil.
Kedelapan golongan tersebut merupakan orang-orang yang bermasalah dalam ekonomi. Diharapkan, dengan adanya zakat orang-orang yang bermasalah ini akan dapat terbantu, sehingga mereka tidak sampai terjerumus ke jurang kekufuran Jika konsep zakat di dalam Islam diperuntukkan untuk membantu saudaranya yang mengalami kesulitan dalam ekonomi, kenapa mayoritas yang mengalami kesulitan ekonomi itu adalah umat Islam?
Banyak jawaban yang dapat diberikan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satu di antaranya adalah pemanfaatan zakat yang cendrung ke arah manfaat ekonomi praktis, sehingga zakat dimaknai tidak lebih dari sekadar bantuan untuk pemenuhan kebutuhan hidup jangka pendek. Padahal sesungguhnya, zakat dalam Islam tidak hanya mangandung manfaat praktis tetapi juga mengandung manfaat strategis. Di dalam manfaat strategis terkandung makna pemberdayaan, karena dana yang diperoleh dari zakat digunakan untuk pengembangan usaha.
B. PEMBAHASAN
Gendingan merupakan bagian dari wilayah Bantul Yogyakrta, dimana warganya berasal dari berbagai macam golongan dan strata sosial. Mulai dari pengusaha, pns, pedagang, petani, juru parker hingga pada pengangguran. Kultur kota ini yang memang melahirkan masyarakat yang beranekaragam. Perbedaan kondisi sosial ini tentu juga berimbas pada tingkat pendidikan dan kemapanan secara ekonomi.
Saat adanya pendampingan misykat, hal ini tentu merupakan geliat awal bagi bangkitnya semangat wirausahawati bagi kaum ibu. Masyarakat dapat memanfaatkan sumber dana bagi pengelolaan usaha yang mereka laksanakan. Salah satunya adalah home industry berupa usaha pembuatan snack khas Jogja oleh ibu-ibu seperti, Grubi, keripik, roti dan sebagainya. Dengan adanya unit usaha keluarga ini, diharapkan dapat membantu keuangan kelurga, kesejahteraan masyarakat, hingga pada kemakmuran rakyat.
Semoga saja apa yang telah dilakukan oleh para donator member manfaat pada peningkatan kualitas perekonomian keluarga yang ada di daerah Bantul ini, sehingga semakin banyak donator yang tergerak dan tergugah hatinya untuk dapat berbagi dalam koridor yang benar. 
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan miskin, pengurus (amil) zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk (usaha) di jalan Allah, dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“. (At-Taubah: 60).
Selain tentang konsep kepemilikan harta, pembicaraan tentang zakat juga harus dikaitkan dengan konsep pengembangan harta dengan cara yang baik sehingga akan menjadi keberkahan bagi pemiliknya dan orang lain. Justru persoalan keberkahan merupakan persoalan inti dan esensi bagi seorang muslim dalam mensikapi hartanya. Diantara ciri harta yang berkah itu adalah harta itu akan bertambah banyak, paling tidak dari segi dampak manfaat yang ditimbulkannya. dengan berzakat harta menjadi berkah dalam arti memberi kenyamanan dan keamanan bagi pemiliknya karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang hartanya. Bahkan hartanyalah yang akan menjaga pemiliknya. Dengan menjalankan kewajiban zakat juga sang pemilik harta akan berkah karena lebih dekat dengan Allah karena selalu bersyukur atas karuniaNya. Harta yang senantiasa dikeluarkan zakatnyaakan menghindarkan pemiliknya dari sikap rakus terhadap harta, bahkan selalu berusaha untuk memberikan manfaat bagi pemilik dan orang lain. Rasulullah saw menjamin dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah, dan tidaklah Allah menambah bagi hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang yang berlaku tawadhu’ karena Allah melainkan Dia akan meninggikannya“.
Ditinjau dari segi filosofi zakat berdasarkan ayat inti dalam tulisan ini, zakat tidak sekadar menunaikan kewajiban materiil semata bagi seorang muslim yang memiliki harta, tetapi bagaimana zakat dapat dijadikan sebagai sistem nilai yang seterusnya terinternalisasi dalam diri pembayar zakat untuk menjadi seseorang yang peduli kepada yang lemah dan berpihak pada kaum papa dalam seluruh perilaku dan aktifitas ekonominya. secara empiris, kesejahteraan sebuah negara karena zakat terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. meskipun beliau hanya memerintah selama 22 bulan karena meninggal dunia, 
Negara menjadi sangat makmur, yaitu dengan pemerintahan yang bersih dan jujur dan zakat yang ditangai dengan baik. hingga kala itu negara yangn cukup luas hampir sepertiga dunia tidak ada yang berhak menerima zakat karena semua penduduk muslim sudah menjadi muzakki. itulah pertama kali ada istilah zakat ditransfer ke negeri lain karena tidak ada lagi yang patut disantuni. zakat dapat menumbuhkan etos kerja. dengan membayar zxakat seseorang akan bekerja dengan baik. dengan demikian gerakan sadar zakat pada dasanya adalah gerakan menciptakan etos kerja yang baik yang memberi kesejahteraan dan kemakmuran yang merata bagi semua.
Jelas bahwa keberhasilan khalifah Umar bin Abdul Aziz pada saat itu tidak hanya dengan menggunakan zakat dalam arti harfiah materiil semata, tetapi merupakan kebijakan yang memberikan perhatian yang tinggi pada pengelolaan zakat. Zakat pada kepemimpinan beliau dijadikan tolok ukur akan kesejahteraaan masyarakat, baik jumlah orang yang berzakat, besar zakat yang dibayarkan, maupun jumlah penerima zakat. Berbeda dengan tolok ukur lain yang cenderung bias. Tolak ukur zakat sebagai pengatur kesejahteraan benar-benar bisa dijadikan pedoman standar, baik dalam konteks ekonomi mikro maupun makro.
Disinilah zakat berperan sebagai Ibadah Maaliyah Ijtima’iyyah (ibadah harta yang berdimensi sosial) yang memiliki posisi penting, strategis dan menentukan, baik dari sisi pelaksanaan ajaran Islam maupun dari sisi pembanguna kesejahteraan umat. 
Kesediaan seseorang untuk berzakat merupakan indikator utama ketundukannya terhadap Allah dan ciri utama seorang mukmin yang akan mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah. kesediaan berzakat pula dipandang sebagai ciri orang yang selalu berkeinginan mennyucikan dan mmembersihkan serta mengembangkan harta yang dimilikinya, Sebaliknya keengganan dan ketidak pedulian seseroang terhadap zakat mendapatkan peringatan dan ancaman yang berat dari Al-Qiur’an di akhirat kelak. Harta benda yang disimpan dan tidak dibelanjakan sesuai dengan dengan ketentuan Allah akan berubah menjadi alat untuk mengazabnya. Dalam beberapa hadits, 
Rasulullah mengancam orang yang enggan membayar zakat hartanya akan hancur, dan jika keengganan ini demikian bersifat massal, maka Allah akan menurunkan azab berupa dihambatnya hujan yang menurunkan keberkahan seperti tersebut dalam hadits Thobroni dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah juga pernah menghukum Tsa’labah atas keengganannya berzakat dengan isolasi yang berkepanjangan, tidak ada seorang sahabatpun yang berhubungan dengannya meskipun hanya bertegur sapa. 
Khalifah Abu Bakar bahkan mengultimatum perang terhadap kelompok yang hanya shalat namun tidak mau berzakat sepeninggal kewafatan Rasulullah. Atas dasar kepentingan inilah, sampai sahabat Abdullah bin Mas’ud menegaskan bahwa orang yang tidak berzakat, maka tidak ada shalat baginya. Dalam konteks kemakmuran rakyat (umat), peran zakat dapat dilihat dari beberapa hal berikut ini: pertama, zakat akan menumbuhkan akhlak yang mulia berupa kepeduliaan terhadap nasib kehidupan orang lain, menghilangkan rasa kikir dan egoisme (An-Nisa’: 37). 
Kedua, Zakat berfungsi secara sosial untuk mensejahterakan kelompok mustahiq, terutama golongan fakir miskin ke arah kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, dapat menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan menderita. Ketiga, zakat akan mendorong umat untk menjadi menjadi muzakki sehingga akan meningkatkan etos kerja dan etika bisnis yang benar. Keempat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Dengan zakat yang dikelola dengan baik dimungkinkan terciptanya pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan. Maka zakatlah ibadah satu-satunya yang secara eksplisit disebutkan adanya pengelola resmi yang dikenal dengan istilah Amil seperti yang diisyaratkan dalam surat At-Taubah: 103 yang bermaksud: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.