Sebagai salah satu bangsa muslim terbesar di dunia, Indonesia di tuntut untuk menerapkan sistem ekonomi Islam. Kehadiran ekonomi Islam menjadi salah satu solusi pembangunan bangsa dan negara sangat diharapkan, karena sistem ekonomi kapitalis yang sangat mendominasi selama ini terbukti telah menimbulkan masalah dan dianggap gagal oleh para ekonom. Kegagalan tersebut terlihat dengan  terjadinya krisis moneter yang melanda beberapa negara termasuk Indonesia yang disebabkan oleh sistem bunga yang diterapkan. Kemunculan lembaga-lembaga yang berbasis keislaman seperti Perbankan Syariah, Lembaga Keuangan Syariah (LKS), Dewan Syariah Nasional (DSN), Pasar Modal Syariah dan lain-lain menjadi bukti bahwa ekonomi  Islam sedang digalakkan di Indonesia. Namun, banyak tantangan yang harus dihadapi dengan labelisasi syariah yang dipakai terutama dalam bidang perbankan. Sebagai contoh, sistem bagi hasil yang diterapkan di anggap memberatkan nasabah, pemakaian istilah-istilah yang sulit di ketahui dan tidak dikuasai oleh baik oleh masyarakat maupun sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya. Ini terjadi karena kurangnya pemahaman akan dasar-dasar ekonomi Islam yang hanya baru dipahamai oleh kalangan tertentu saja. Agar praktik syariah atau ekonomi Islam dapat diterapkan secara utuh, di perlukan pemahaman terhadap rancang bangun ekonomi Islam baik oleh para ekonomnya maupun masyarakat secara umum.

Terdapat tiga komponen dalam rancang bangun ekonomi Islam yaitu teori ekonomi Islam, prinsip sistem ekonomi Islam, dan perilaku Islam dalam bisnis dan ekonomi. Ketiga komponen ini jika diterapkan dengan benar maka pembangunan bangsa dan negara di Indonesia akan tercapai dengan maksimal.
Teori Ekonomi Islam
Teori ekonomi Islam meliputi lima hal yang menjadi pondasi: 1) Tauhid (keimanan) yakni Allah sebagai pemilik sejati seluruh alam semesta dan Allah menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia serta manusia diciptakan untuk beribadah. 2) Adil, tidak ada yang mendzalimi dan di dzalimi serta tidak boleh mengejar keuntungan pribadi. 3) Nubuwah (kenabian), memiliki sifat seperti para nabi, pertama Siddiq (jujur), pelaku ekonomi memiliki visi yang efektif dan efisien, kedua Amanah (dapat dipercaya), memiliki misi yang dilakukan secara tanggung jawab, dapat dipercaya dan kredibilitas yang tinggi, ketiga Fathonah (cerdas), strategi hidup yang cerdas dan bijaksana, dan keempat Tabligh (menyampaikan), memiliki taktik hidup yang komunikatif, terbuka dan pemasaran.
4) Khilafah (pemerintahan) mempunyai sifat tanggung jawab, menerapkan sifat dalam asmaul husna/nama-nama Allah dan menjaga keteraturan interaksi (muamalah). 5) Ma’ad (hasil/keuntungan), menganggap bahwa dunia adalah tempat bekerja dan beraktivitas agar mendapat pengembalian dan mengejar keuntungan dunia dan akhirat.
Prinsip Sistem Ekonomi Islam
Ada tiga prinsip derivatif yang terdapat dalam sistem ekonomi islam: 1) Multiple ownership (kepemilikan multijenis), artinya Allah adalah pemilik primer dan manusia sebagai pemilik sekunder yang harus mempertanggungjawabkan kepemilikannya di akhirat kelak. 2) Freedom to act (kebebasan berbuat), dalam hal ini bukan berarti manusia bebas melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan, lebih dari itu manusia bebas berbuat untuk kebaikan akhirat. 3) Social justice (keadilan sosial), adanya keseimbangan dan pemerataan kesejahteraan.
Perilaku Islam Dalam Bisnis dan Ekonomi
Hanya ada satu poin penting berkaitan dengan perilaku islam yaitu akhlaq, sebagaimana hadis nabi SAW yang berbunyi:”dan aku tidak di utus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq”. Akhlaq akan terlihat sesuai dengan tingkat keimanan dan ketauhidannya.
Rancang bangun ekonomi ini jika digambarkan memiliki tiga lapis, dari teori ekonomi islam yang menjadi pondasi lalu akan menghasilkan prinsip sistem ekonomi islam dan pada puncak atau atapnya adalah akhlaq sebagai hasilnya.
Akhlaq Pemimpin Belum Mencerminkan Keimanan
Sudahkah akhlaq masyarakat Indonesia mencerminkan akhlaq yang dibangun dalam rancang bangun ekonomi Islam?. Mungkin hal itu yang menjadi pertanyaan jika di kaitkan dengan uraian di atas. Bagaimana Indonesia dapat membangun bangsa dan negaranya jika para pemimpinnya saja yang menjadi figur banyak melakukan pelanggaran terutama korupsi dan perebutan kekuasaan. Jika di amati lebih dalam, sistem bunga yang di terapkan dalam ekonomi kapitalis di Indonesia bukanlah satu-satunya penyebab krisis, kemiskinan maupun ketidaksejahteraan rakyat. Korupsi yang dilakukan secara berjamaah juga salah satu sebabnya, korupsi sebagai cerminan akhlaq yang tidak islami, tidak bercirikan pemimpin yang bersifat kenabian dan hanya mengejar keuntungan dunia saja. Itulah kenapa dalam rancang bangun islam akhlaq menempati posisi puncak dengan lima dasar pondasinya.
Banyaknya kasus yang mencoreng nama baik Islam dalam ranah politik maupun ekonomi akhir-akhir ini, sebaiknya menjadi refleksi bagi kita semua dan tidak hanya menjadi bahan dialektika atau perdebatan semata untuk menaikkan rating berita atau media.