The Historical of Inspiring Youth ; Sejarah Pemuda Menginspirasi
Oleh Tri Sunaryanto
(Juara 2, Student Islamic Awards (SIA), SoloRaya Islamic Conference and Festival 2013)
Thingking Zone, Suatu hari, hutan terbakar. Pada suatu tempat di hutan tersebut ada seekor burung kecil yang mengambil air dengan mulutnya lalu menyemprotkanya ke kobaran api. Sepertinya usaha burung tersebut sia-sia belaka, terlihat api bukannya padam malah semakin besar. Melihat kejadian itu, beberapa,  hewan menasehati burung tersebut agar menghentikan kegiatan yang percuma itu. Tapi burung itu meneruskan pekerjaannya dan menjawab, “Biarlah, biarlah aku melakukan ini, jika nanti Tuhan menghisabku, aku bisa menjawab dengan memperlihatkan amal kecilku ini. Meski terlihat sia-sia, setidaknya aku telah berusaha”. Mendengar jawaban burung tersebut, hewan-hewan yang lain ikut bersimpati dan akhirnya turut serta beramai-ramai menyiram api yang membakar hutan tersebut. Mereka saling bekerjasama bahu membahu membantu burung tersebut menyiram api. Setelah sekian lama, akhirnya api bisa padam dan kebakaran hutanpun bisa diatasi. Kemudian semua hewan-hewan itu bisa hidup dengan tenang lagi di hutan tersebut.
Seperti kondisi masyarakat terutama pemuda Indonesia layaknya hutan yang terbakar. Burung kecil itulah ibarat seorang pemuda dengan tekad yang kuat memberikan perubahan pada kondisi masyarakat. Analogi burung kecil diatas juga merupakan sebuah inspirasi bagi kita semua. Keadaan masyarakat yang memprihatinkan seperti hutan yang terbakar, dapat dianalogikan keadaan generasi muda sekarang. Ibarat burung kecil tersebut, pemuda diharapkan mencoba berbuat segenap upaya, memulai dengan aksi kecil, dan terus berbuat, agar kelak aksi ini bisa menginspirasi semuanya untuk bangkit dan bergerak memberikan perubahan bagi bagi bangsa.
The Historical of Inspiring Youth ; Sejarah Pemuda Menginspirasi
“Keluarlah keluarlah saudaraku, berdirilah tegap di ujung jalan itu,
sebentar lagi sejarah kan lewat, mencari aktor baru untuk drama kebenarannya.
Sambut saja dia, Engkaulah yang ia cari…”
(Puisi “Keluarlah Saudaraku”, oleh Anis Matta dalam buku Dari Gerakan ke Negara, 2006.)
Dalam sebuah sejarah peradaban dunia, seorang Umar ibn Khotthob memandang pentingnya peran pemuda. Dia pernah mengatakan: “Setiap saya menghadapi masalah yang rumit, saya panggil anak muda”. Bagi Bung Karno, pemuda digambarkan sebagai sosok unggul, pilihan, bergairah, bergelegak dan bergelora secara fisik, psikis, intelektual, serta yang terpenting sikapnya. Pemuda sosok superior, progresif, revolusioner dengan api berkobar-kobar, dan bara spirit yang menyala-nyala. Maka, sangatlah wajar ketika Bung Karno pernah berujar: “"Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia!".
Dalam sejarah bangsa Indonesia, pemuda pun memiliki bagian dalam kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda 1928 menjadi pemersatu komponen bangsa untuk bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa Rengas Dengklok tercatat sebagai bagian dari perjuangan dari kemerdekaan bangsa Indonesia yang diawali oleh peran golongan muda. Jatuhnya rezim Soeharto pada 21 Mei 1998 pun tak terlepas dari perjuangan kaum muda. Hasan Al Banna (2003) mengatakan: “Sejak dahulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya.”
Pemuda telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ukiran sejarah bangsa Indonesia. Para pemuda selalu hadir di tengah kebuntuan skenario sejarah bangsa yang sedang di jalani. Setidak-tidaknya dalam  hitungan abad ini, ditandai oleh lahirnya generasi baru dalam setiap persimpangan sejarah. Jika generasi 1998 berhasil menumbangkan Orde Baru, maka generasi 66 berhasil mengakhiri catatan Orde Lama.[1]
Kiranya tak berlebihan jika Ben Anderson, pengamat politik Indonesia, meyakini sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan kaum muda. Dalam setiap fase sejarah, kepemimpinan kaum muda adalah motor penggerak perubahan zaman. Ben Anderson mengatakan, “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda ini.”[2]
Generasi Rengasdengklok telah membuktikan diri menjadi agen revolusioner hingga Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Generasi pemuda angkatan 28 telah membuktikan sebagai pelopor persatuan nasional dengan simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan dalam bingkai sumpah pemuda. Generasi 1900-an mempelopori kebangkitan nasional. Semua angkatan itu silih berganti hingga generasi 1998 yang telah menjadi pemuda-pemuda reformis pembuka jalan bagi perbaikan bangsa Indonesia. Generasi-generasi pemuda seperti itulah yang menjadi jiwa dan cermin yang harus dicontoh oleh pemuda-pemuda Indonesia sekarang.

[1] Matta, Anis. 2006. Dari Gerakan ke Negara Sebuah Rekonstruksi Negara Madinah yang Dibangun dari Bahan Dasar Sebuah Gerakan. Jakarta: Fitrah Rabbani. Halaman 156
[2] Pratama, Rama. Kaum Muda, Asa, dan Perubahan. Dari http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/ kat/ 24/news_id/1119, diakses tanggal 29 Januari 2013. 19.45 WIB