KARYA : HARYANI
STIE IEU YOGYAKARTA
TABUNGAN KITA YANG KEKAL DAN BERLIPAT GANDA
 Di abad modern ini kita berlomba-lomba menambah atau melipatgandakan uang dengan berbagai cara. Ada yang bermain spekulasi, money game, taruhan dan sebagainya itu semua fakta dan realita yang ada di sekitar kita.  Ajaran agama yang kita terima dengan adanya pelarangan dari hal-hal tersebut kadang tidak dapat membentengi kita dari hal-hal tersebut. Karena apa? Kehidupan perekonomian kita sudah terjejas dengan budaya kapitalis, yang mengupayakan segala daya untuk mendapatkan keuntungan dan laba itu sebagai  tujuan utamanya. Kita bergerak ke arah mana saja sudah rentang dengan hal-hal yang berbau spekulasi, berbau riba, hal-hal yang tidak dibenarkan dalam agama.
Akibat perubahan ekonomi di Negara kita tidak luput dari perdagangan bebas dan international. Jadi semua bersaing untuk menang dan mendapatkan untung. Keperluan kita sehari-hari pun sudah rentang dengan permainan perdagangan yang diatur oleh para ahli bisnis dan spekulasi. Kita menyimpan uang pun kadang juga dikhawatirkan, karena apa? Karena takut kita melakukan hal-hal yang berbau riba. Agama melarang makan riba, sedangkan di bank-bank umum dengan jelas dan terang-terangan mengatakan bunga sebesar 0,2% atau 0,9%. Kita tahu bunga adalah sebagian dari riba dan bentuk apapun yang didalamnya mengandung unsur mengambil manfaat dari hal maka dikatakan riba.  Perkataan kita pun bisa ada unsur riba misalnya kita mengatakan “saya akan meminjami kamu buku, atau tugasku untuk kamu contoh atau lihat, asalkan kamu nanti mau memijit aku atau asalkan kamu mau mengenalkan aku dengan orang itu “. Disini  kita berniat baik tapi disertai dengan syarat yaitu asalkan apa-apa, maka syarat ini termasuk dihukumi riba. Jadi haram dan tidak boleh.
            Sedangkan bank yang ada sekarang ini di seluruh Negara-negara Islam pada umumnya berinteraksi dengan riba, bahkan didirikan berdasarkan riba 100%. Jadi berinteraksi dengannya tidak boleh, kecuali pada hal-hal yang diperbolehkan karena alasan darurat, misalnya transfer uang dari satu Negara ke Negara lainnya. Berangkat dari sinilah, kita kaum muslim harus mendirikan bank islam yang jauh dari riba dan bersih dari interaksi dengannya.
Kita tahu hukum riba adalah haram, seperti dalam Firman Allah SWT :
“ Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda “ Ali Imran : 130
Dan seperti dalam sabda Rasulullah Saw :
“ Allah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dua orang saksinya, dan penulisnya (skretarisnya).
Dengan firman Allah SWT dan hadist Rasul kita bisa mencermati bahwa hukum memakan riba, mendekati riba, hidup berkaitan dengan riba sampai ke penulisnya pun dilaknat Allah SWT. Astagfirullahal ‘adzim…….kita bisa membaca diri kita, apakah kita sudah bersih dari riba? Pertanyaan ini hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya. Bila ada pertanyaan begitu bagaimana dengan orang-orang yang bekerja di bank, menjadi kasir, menjadi satpam, menjadi manajer, menjadi ahli audit perbankan, apakah mereka tergolong dalam hal ini. Kita bisa menafsirkan dan mengartikan kata-kata tersebut dengan penjelasan arti yang luas. Ya pasti jawabanya, karena pendapatan penghasilan dari mereka berasal dari pengelolaan uang yang dimanfaatkan fungsi atau lebih mudahnya didapat dari perbungaan uang yang dipinjam atau dimanfaatkan pihak lain.
Kita mencermati sekeliling kita apa realita yang terjadi, bahkan sebagian dari kita terang-terangan mendepositokan uang untuk mendapatkan uang yang lebih besar. Alasan logis bahwa dengan mendepositokan uang kita mendapatkan bunga bank yang lebih besar dan banyak. Tanpa harus kerja kita bisa menikmati uang dari bunga depositi untuk mencukupi hidup kita. Apakah ada orang yang hidup dengan cara begitu, ada jawabanya. Bahkan suatu lembaga masyarakat yang bergerak di bidang sosial dengan mengkhususkan lembaga penyantun anak yatim piatu dan dhuafa melakukan hal begitu. Bagaimana dengan hasil yang didapat, tentunya uang dapat berlipaat ganda dan dapat digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu. Tetapi sungguh niat baik tersebut telah terkotori dengan cara pengelolaan uang dengan tidak dibenarkan dalam agama.
Banyak lagi kegiatan yang berdasarkan niat baik tetapi silaf dalam mengambil jalan atau tindakan. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain, tetapi kita bisa mengoreksi diri kita sendiri. Kita hanya perlu lebih memahami dan berusaha menghindari hal-hal yang berbau ketidakridhoan untuk mendapatkan berkah sebenarnya.
Sebenarnya tiada tabungan atau jenis simpanan yang akan melipatgandakan uang yang lebih besar di dunia ini, bahkan yang abadi. Tak satupun tawaran dari perbankan yang bisa melipatgandakan uang kita, bahkan menjadikan kita kaya. Hanya shodaqoh dan shodaqoh, amal jariyah, adalah tabungan yang kekal dan bisa melipatgandakan harta kita.  Kenapa shodaqoh, amal jariyah yang bisa melipatgandakan harta kita? Sedangkan harta kita bahkan berkurang bila kita lihat dari segi penglihatan kita. Namun sebenarnya tidak, harta kita tidak berkurang bahkan bertambah, kita memiliki tabungan yang langsung kita tabung kepada pemilik alam ini. Kepada Zat yang menciptakan bumi dan seisinya, kepada Zat yang menciptakan diri kita, kita menitipkanya. Bukan hanya 0,2% yang kita dapat atau 0,9% tapi bahkan lebih besar dari itu bahkan bisa mencapai 100% modal kita bisa kembali atau berlipat ganda.
Kenapa dalam masalah ini kita bisa mempercayainya, walaupun masih ada orang yang tidak percaya. Karena kita sebenarnya menabung amaliyah kebaikan, walaupun tidak ada perjanjian akad bunga, bagi hasil ataupun prjanjian yang lain, tetapi Allah SWT telah berjanji dan menash kepada semua manusia bahwa shodaqoh, amal jariyah adalah sebenarnya harta kita yang kita punyai dan nyata yang akan kita bawa sampai ke alam akhirat, bukan besarnya tabungan kita di BRI, BNI, BPD atau di bank-bank yang lain.
Kita bisa lihat janji ataupun nash Allah SWT dengan dipraktekkan pada setiap moment pengajian para dai di seluruh Indonesia. Misalnya pada pengajian tabligh akbar AA Gym ada sorban infak, di pengajian Arifin Ilham juga ada infak shodaqoh, di pengajian Yusuf Mansyur juga ada sebesar-besar shodaqoh atau infak yang akan membebaskan kita dari masalah, dan pasti juga pengajian atau acara keagamaan yang lain pasti juga demikian.
Bagi masyarakat yang sadar mereka tiada susah megeluarkan lembaran-lembaran besar untuk berinfak, bershodaqoh. Tetapi bagi masyarakat yang belum sadar masih lembaran-lembaran kecil yang berani mereka keluarkan. Tapi bagi yang sadar sebenarnya shodaqoh,infak tersebut akan kembali kepada kita baik di kehidupan kita dikala kita masih hidup atau nanti kita sudah tiada. Tabungan yang kita titipkan kepada Allah SWT akan dikelola baik oleh Allah SWT, dan bahkan bisa mencapai 100% lebih balik kepada kita. Sebenarnya kandungan dari shodaqoh, infak juga banyak sekali bisa menghilangkan masalah, mempermudah rezeki, mempermudah jodoh, mempermudah usaha kita dan lain-lainnya. Apalagi tabungan yang berupa amal jariyah, sangat banyak sekali dan lebih banyak dari shodaqoh dan infak, dapat kita rasa dari kita masih hidup sampai kita meninggal manfaat tabungan kita yang berupa amal jariyah dapat kita nikmati.