Sekedar Share :-),
Nih kawan, Essay  yang saya ikut lombakan pada lomba essay AIBF UNAIR 2012, alhamdulillah masuk 10 besar :-)
REVITALISASI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM MEMBINGKAI PROBLEMATIKA PENDIDIKAN BANGSA
Keluarlah keluarlah saudaraku, berdirilah tegap di ujung jalan itu,
sebentar lagi sejarah kan lewat, mencari aktor baru untuk drama kebenarannya.
Sambut saja dia, Engkaulah yang ia cari.
—“Keluarlah Saudaraku”, oleh Anis Matta dalam buku Dari Gerakan ke Negara, 2006.
Karakter Problematika Pendidikan Indonesia
Benarkah kita telah menyelenggarakan pendidikan? Lantas, bagaimana menjelaskan tindakan premanisme, korupsi, asusila, dan tindakan amoral dan melanggar hukum lainnya yang justru dilakukan oleh “orang-orang terdidik” dan dari “institusi-institusi dan lembaga terhormat” di negeri kita? Dimana letak kesalahan pendidikan selama ini?
Dalam menyikapi realitas pendidikan, sebagaimana diketahui bahwa sumber krisis berkepanjangan yang dialami bangsa Indonesia adalah krisis moral yang kompleks, tapi sejauh ini tidak ditemukan gerakan yang menyeluruh dan mendasar yang telah kita lakukan untuk mengentaskannya. Apakah kita telah benar-benar serius untuk dapat meyelesaikan masalah yang kita hadapi?.
Pada titik ini, konsepsi pendidikan yang meletakkan adab dan akhlak sebagai fondasinya, sangat tepat dikemukakan. Sebelum melangkah lebih jauh, segera harus digarisbawahi bahwa adab dan akhlak hendaknya tidak dipahami sebagai dasar-dasar moral tanpa bentuk-bentuk praktis dalam kehidupan keseharian. Sebagaimana adab dan akhlak juga tidak boleh dipahami sebatas tata krama dan etika praktis, sehingga tidak menyentuh nilai-nilai kecendikiawanan dan tradisi keintelektualan yang menjadi basis bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Apa yang dimaksud dengan adab dan akhlak di sini adalah kualitas-kualitas mental, spiritual, sikap dan perilaku dan yang mencakup itu semua. Pendidikan yang holistik mampu meletakkan pendidikan adab dan akhlak dalam posisi yang sangat sentral.
Penekanan pada aspek adab dan akhlak dalam perspektif pendidikan yang holistik, seharusnya belajar bukanlah demi dan untuk belajar itu sendiri, tapi belajar dianggap sebagai bagian dari usaha mendapat hidayah. Ilmu bahkan dipersepsikan sebagai bagian dari hidayah itu sendiri.
Imam as-Syafi’i menceritakan pengalamannya dalam sebuah lantunan sya’ir:
“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan bagi dirinya, Allah akan memberikan kepadanya pemahaman  terhadap agama.”
Di sinilah mungkin salah satu perbedaan antara pendidikan yang kita kembangkan sekarang dengan pendidikan ideal yang kita cita-citakan. Dalam pendidikan kita, aksiologi ilmu justru diletakkan di urutan terakhir. Tradisi intelektual dan kecendikiawanan yang seharusnya ditanamkan sejak dini, baru ditanamkan ketika peserta didik menginjak bangku kuliah. Tugas mengkaji, metodologi penelitian, kemampuan berpikir kritis dan logis, objektif dalam menilai, jujur, sportif, dan terbuka, hanya diberikan pada usia dewasa. Padahal, bila kita benar-benar menginginkan agar nilai-nilai tersebut dapat tertanam dalam sikap dan perilaku peserta didik ,seharusnya sudah ditekankan lebih awal.
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat religius dengan jumlah penduduk mayoritas beragama dan tentunya multicultural terbesar di dunia. Bila aspek ini tidak segera dibenahi, maka di masa yang akan datang, tidak mustahil nilai religiusitas dan kultural yang menjadi ciri kebangsaan ini hanya tinggal kenangan.
Revitalisasi SDM dibidang pendidikan
”If your action inspire others to dream more, learn more, do more, and become more, you are a leader”.
John Quincy Adams, Presiden Amerika ke-6
Terlalu sulit untuk mengurai semua benang kusut problematika bangsa yang tidak sekedar maslah pendidikan. Hanya saja ada beberapa peristiwa yang dianggap penting untuk diluruskan guna menyulam masa depan yang lebih cerah. Secara makro, Indonesia adalah negara yang patut mendapat harapan hidup lebih tinggi oleh masyarakatnya dibanding negara-negara di belahan bumi lainnya.
Sumber daya alam yang tidak ada angka pastinya dari segi ukuran, kualitas dan kuantitasnya. Keberadaan sumber daya alam itu adalah modal besar untuk bertahan. Tapi itu tidak cukup. Benang kusut yang tak kalah berbelitnya adalah persoalan Sumber Daya Manusia (SDM)-nya dibidang pendidikan. Kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan, sepertinya lebih penting untuk dibenahi dengan baik daripada system pendidikan itu sendiri. Sekarang juga dan dimulai dari siapa saja. Jika pun sudah ada yang memulai kita bersyukur. Kita tetap harus meyakini bahwa setiap perubahan besar terjadi tentu ada awal yang menjadi titik lompatannya dan kita mesti terlibat dalam setiap gerakan perubahan atau reformasi pendidikan itu sendiri.
Dalam menggarisbawahi poin paling penting dari pembenahan sumber daya manusia di bidang pendidikan, tak ada yang patut menjadi urutan paling atas. Semua aspek tak ada yang kalah penting.
Namun setidaknya ada tiga karakter SDM di bidang pendidikan yang paling diinginkan pendidikan bangsa ini untuk melihat masa depan pendidikan Indonesia yang cerah.
Pertama, Kreatifitas tiada henti. Kita selalu lebih suka mencontoh dan mereduksi system pendidikan produk impor yang praktis. Yang dianggap patut untuk dicontoh dan diterapkan di Indonesia. Dan parahnya, kadang produk impor itu menjadi ajang coba-coba pendidikan di Indonesia. Padahal Indonesia sangat jauh berbeda dengan Negara manapun di dunia ini. Indonesia adalah Negara yang mungkin memiliki keunikan paling tinggi di dunia. Banyak sekali hal yang tidak terjadi dinegara manapun. Dan jelas itu bukan kreatif.
Kreatif disini adalah kreatifitas positif yang tentunya membangun dunia pendidikan nasional. Dari segi kuatitas, jumlah manusia kreatif di Indonesia mungkin lebih banyak di banding Negara lain, karena memang jumlah manusia kita adalah jumlah manusia yang fantastis. Kemenangan jumlah itu tak mampu bangkit mengejar keterbelakangan Indonesia di wajah dunia. Ada yang terlupa bahwa manusia kreatif itu butuh fasilitas untuk melengkapi daya kreatifnya.
Solusinya, para manusia kreatif misalnya kaum muda, diberikan ruang dalam dunia pendidikan untuk membuat wajah pendidikan Indonesia maju.
Kedua, Visioner jauh kedepan. Karakter ini tentunya adalah karakter SDM di bidang pendidikan yang positif. Meskipun di sebuah Negara memiliki banyak orang kreatif. Namun tidak memiliki jangkauan berfikir yang lebih panjang, maka hasilnya akan bersifat sementara. Dan kita akan tertinggal lagi. Berfikir visioner dalam dunia pendidikan jarang sekali diungkapkan kepada masyarakat.
Imbas dari rendahnya karakter visioner pada SDM di bidang pendidikan Indonesia adalah tingginya tingkat keserakahan masyarakat. Serakah dan berpikir pendek, hanya mampu melihat apa yang ada di depan mata. Jangkauan dan pandangan jarang sekali diluruskan. Hingga kita selalu tertinggal dari bangsa-bangsa yang berfikir maju dan punya perencanaan yang matang terhadap pendidikan bangsanya.
Sedang Indonesia, tak pernah ada yang memikirkan kedepannya. Dalam pendidikan bagsa ini, kita selalu ditanamkan untuk memetik buah secara instan. Sebagai contoh evaluasi pendidikan atau indikator yang jelas untuk pendidikan nasional kita sebatas baru sampai ranah nilai pengetahuan saja. Ini indoktrinasi terselubung dari media mainstream pendidikan bangsa ini. Karena model dan system kita yang membentuk untuk selalu dibatasi masa kerjanya. Siapa pun pemimpin akan enggan melanjutkan sisa-sisa rencana pembangunan pendidikan bangsa ini. Karena selalu menganggap bahwa system pendidikan yang saat ini sedang salah, dan harus dihentikan dan diganti lagi. Jadilah bengsa ini menjadi bangsa yang coba-coba.
Ketiga, Moralitas tingkat tinggi. Karakter inilah yang menjadi isi dari kedua karakter di atas. Tak akan pernah ada harapan untuk bangsa ini jika para manusianya belum memiliki moral. Lihat saja bangsa kita sekarang ini. Orang cerdas Indonesia banyak, orang kreatifnya juga banyak. Tapi moral mereka ambruk. Mestinya moral menjadi bangunan yang kokoh untuk menopang karakter-karakter positif SDM di bidang pendidikan Indonesia. Moral menjadi kata kunci dari semua ini. Karakter moral adalah kemestian suatu bangsa untuk bisa melangkah maju serta membangun pendidikan nasional yang berkarakter baik.
  Refleksi Jejak          
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Bung Karno pernah mengatakan For a fighting nation, there is no journey’s end. Sesulit apapun krisis yang melanda negeri ini, Indonesia tidak boleh menyerah. Tidak ada stasiun akhir bagi bangsa pejuang pendidikan. Pemuda kreatif, visioner dan bermoral adalah jawaban atas harapan Bung Karno dan jawaban atas krisis pendidikan bangsa Indonesia. Revolusi belum selesai, begitu Bung Karno menekankan kepada bangsa Indonesia, begitupun revolusi dunia pendidikan juga belum selesai.
Bangkit itu Tidak ada… Tidak ada kata menyerah Tidak ada kata putus asa
Bangkit itu aku… Aku untuk Indonesia-ku
—Dedy Mizwar
Daftar Pustaka
Goleman, Daniel. 2001. Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakarta: PT Gramedia
Matta, Anis. 2006. Dari Gerakan ke Negara Sebuah Rekonstruksi Negara Madinah yang Dibangun dari Bahan Dasar Sebuah Gerakan. Jakarta: Fitrah Rabbani.
Rais, Amien. 2008. Agenda-Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia. Yogyakarta: PPSK Press.
Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
 
BIODATA PENULIS

TRI SUNARYANTO
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
0877 3824 5904
Alamat Asli : Dsn.Sukorejo, Rt/Rw 01/01,Ds.Kedungharjo, Kec.Mantingan, Kab.Ngawi, Kode Pos 63257, Jawa Timur, Indonesia