Islam adalah agama yang sangat demokratis dalam memandang aspek kehidupan manusia, baik dalam konteks duniawi maupun ukhrowi. Pandangan Islam terhadap permasalahan uhkrowi mengajak manusia untuk mengabdikan dirinya kepada dzat transedental yang menjadi pencipta sekaligus pemilik semua makhluk di bumi ini. Wujud pengabdian manusia terhadap sang Khaliq tercermin dalam ritual peribadatan, di mana setiap individu diwajibkan untuk melaksanakan semua peraturan yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dalam hal ini, sering kita sebut dengan istilah “Syari’ah”. Di samping itu, Islam juga mengajarkan kepada manusia untuk memperhatikan sisi duniawi. Segi duniawi mencakup interaksi manusia dengan sesama maupun lingkungannya (Mu’ammalah).
 Tersirat dalam matan sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda : Bekerjalah kau untuk kepentingan dunia seolah-olah akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk kepentingan akhirat seolah-olah akan mati besok. Hadits tersebut merupakan pesan kepada umat Islam untuk menyeimbangkan porsi kepentingan dunia dengan kepentingan akhirat. Apabila mengingat kehidupan dunia manusia harus bersemangat menjalankan roda perekonomian, sementara menyambut kehidupan akhirat, manusia dianjurkan untuk menginvestasikan amal perbuatan yang sholeh.
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan segi-segi kehidupan manusia. Salah satunya adalah segi ma’isyah (penghidupan). Pada masa sahabat, Abdur-Rahman bin ‘Auf, seorang Muhajjirin telah bersaudara dengan Sa’d seorang Anshar. Abdur-Rahman dahulu saudagar di Makkah. Tetapi di Madinah ia tidak mempunyai harta lagi. Lalu Sa’d memberikan kepadanya seperdua hartanya. Tetapi Abdur-Rahman tidak mau menerimanya. Ia minta ditunjukkan kepadanya di mana letaknya pasar, supaya ia berjualan sendiri. Mula-mula ia menjual susu dan keju. Tidak berapa lamanya ia telah mempunyai harta benda dan perniagaan yang agak lumayan dengan berkat kepintarannya berniaga. [1]
Begitu besarnya perhatian Islam terhadap segi kehidupan manusia, sehingga idealnya umat Islam mampu menjalani kehidupannya sesuai dengan regulasi yang termuat dalam syari’at agama. Akan tetapi, realita yang ada saat ini sangat bertolak belakang dengan konsep tata kehidupan Islam yang ada.
Problematika pokok yang melanda umat Islam diantaranya bersumber dari bidang sosial dan ekonomi. Pertama, banyaknya pengangguran di Indonesia. Data menunjukkan bahwa angka pengangguran terbuka di Indonesia masih mencapai 8,12 juta jiwa. Angka tersebut termasuk dalam pengangguran setengah terbuka, yaitu mereka yang bekerja kurang dari 30 jam perminggu. Masih tingginya angka pengangguran di Indonesia harus diatasi dengan menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi unggul. (data Mediacpns.com 21 July 2011). Dalam Islam, seorang individu yang enggan mengembangkan potensi dirinya dinamakan “jumud”. Manusia yang berkarakter jumud akan terkungkung dalam belenggu keterpurukan dan keputusasaan. Dalam Q.S .... dikatakan bahwa “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”. Secara gamblang sudah kita ketahui, masing-masing manusia dikaruniai potensi serta kehendak untuk digali dan diolah dalam hidupnya.
Bahkan seorang penyandang Tuna Daksa, Hellen Keller berani mengangkat sebuah kalimat yang cukup ekstrim sebagai moto hidupnya (Everything can do if we Effortz). Seorang manusia yang tuli, buta, dan bisu sejak kecil hingga dewasa, mampu berusaha sekuat tenaga untuk menjalani kerasnya kehidupan yang dialaminya. Kekurangan yang ada pada dirinya tidak menghambat Hellen untuk berjuang mempertahankan hidup. Perjuangan Hellen tidaklah sia-sia, hingga pada usia remajanya ia berhasil menjadi seorang Hakim Professional.
Pengangguran merupakan salah satu indikasi mudurnya peradaban suatu bangsa. Sumber Daya Manusia yang seharusnya menjadi aset bangsa justru berbalik menjadi beban bangsa. ...
Salah satu alternatif dalam menyikapi permasalahan ini adalah melalui pembinaan moral bangsa melalui berbagai hal. Misal “pembekalan motivasi berwirausaha” pada masyarakat yang masih berpola pikir statis. Di sini dikenalkan konsep, langkah-langkah serta urgensi usaha dalam Islam. Pada daerah-daerah yang memiliki Sumber Daya Alam besar seperti lereng Gunung Merapi, dapat diberikan penyuluhan mengenai pemberdayaan SDA. Kiranya bidang usaha yang cocok untuk masyarakat lereng Merapi adalah sektor pertanian.  Melihat besarnya potensi alam yang terdapat di lereng Gunung Berapi, maka sangatlah mungkin daerah tersebut dijadikan sebagai lahan pertanian yang subur dan produktif.
Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa memakmurkan bumi. Dalam Q.S Al-Baqarah  133 dikatakan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah bukan hanya bermakna sebagai pemimpin namun juga pengelola (manager). Bumi seisinya merupakan hal yang tak berguna jika tidak diberdayakan, namun sebaliknya bumi akan menjadi bermanfaat apabila diolah serta diusahakan secara maksimal.
Kedua, motiv hidup manusia adalah life for money not money for life. Pandangan inilah yang menjadikan maraknya sikap Hedonis di berbagai kalangan masyarakat. Kaum Hedonis beranggapan bahwa dengan uang mereka bisa melakukan apa saja, dengan uang mereka bisa berfoya-foya tanpa menghiraukan masyarakat sekitar dan nasib di kemudian hari. Banyak sekali fenomena yang muncul di tengah masyarakat sebagai simbol mewabahnya Hedonisme. Di kota-kota besar, golongan konglomerat (borjuis) menikmati kekayaannya yang berlimpah dengan membangun gedung-gedung, mall, tempat wisata dan lain sebagainya. Sementara di pinggiran kota, masih banyak terdapat pemukiman kumuh yang dihuni oleh para fakir miskin dan gelandangan.
Peran gerakan buruh Indonesia yang selama ini dipelopori oleh Serikat Pekerja sudah seharusnya didukung juga oleh perjuangan kelembagaan sosial yang siap menjadi bagian integral dari penyelesaian permasalahan umat secara sistematis dan terukur mengingat tanggungjawab yang kini diemban oleh bangsa adalah permasalahan yang kompleks. Kehidupan yang makin sulit bagi kaum buruh karena kenaikan harga sembako dan krisis pangan di dunia hanya akan bisa dijawab apabila pemberdayaan yang selama ini dijalankan oleh Lembaga Charity berupa NGO lokal maupun Lembaga Zakat yang ada tidak hanya fokus pada penyaluran bantuan instan, tapi lebih jauh dari itu diharapkan adanya kerjasama strategis dalam membangun partisipatif dalam pembentukan alternatif sistem ekonomi kerakyatan yang dilandaskan oleh nilai keadilan.[2]
Kesenjangan di atas menggambarkan betapa kurangnya jiwa sosial masyarakat perkotaan. Padahal Islam adalah agama yang sangat memperhatikan aspek sosial kemasyarakatan. Begitu banyak anjuran dalam Islam untuk beramal sosial, namun pada kenyataannya umat Islam hanya memahaminya sebatas wacana saja. Sebagai alternatif solusi dalam mengembangkan jiwa sosial masyarakat, maka perlu diadakan suatu lembaga yang menaungi serta menghimpun dana masyarakat secara Islami. Sehingga  di samping melatih kepekaan sosial, viruz Hedonis akan berkurang secara bertahap. Dalam hal ini, DPUDT (Dompet Peduli Umat Darut- Tauhid) mendirikan suatu badan organisasi ZISWAF untuk mengkoordinir dana Zakat, Infaq, Sodaqoh, dan Wakaf supaya lebih bermanfaat.
Dapat disimpulkan betapa pentingnya pendidikan berusaha dan beramal sosial di era global ini. Pendidikan tersebut dinilai berhasil jika memenuhi indikator berupa sinkronisasi antara aspek knowledge, feeling, and behaviour. Knowledge diartikan sebagai pengetahuan dasar yang telah ada dalam diri manusia. Dalam Islam knowledge sebagai Islam. Sementara feeling merupakan penghayatan terhadap knowledge secara menyeluruh (Iman). Dan behaviour dapat dimaknai sebagai wujud perilaku dari seorang manusia yang memiliki Iman dan Islam. Behaviour sering diidentikkan dengan amal sholeh (Ihsan).
by : Laila Sangadah
DAFTAR PUSTAKA
 Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam.1963. Jakarta : Hidakarya Agung.


[1] Mahmud Yunus. Sejarah Pendidikan Islam.1963. Jakarta : Hidakarya Agung. Hal 15
[2] http. Problematikasosial.com