Abstrak
Pemuda adalah penerus estafet kepemimpinan, semangat dan perjuangannya sangat mengebu-gebu. Perjuangan memerdekaan negeri ini pun tidak luput dari keikutsertaa para pemuda. Mereka ikut mengusir para penjajah dari bumi Indonesia, Betapa heroiknya pemuda Indonesia. Indonesia yang sebagian besar berpenduduk mayoritas islam, hari ini sedikit sekali menghasilkan pemuda yang tangguh seperti zaman kemerdekaan, terlebih ketika zaman Rasulullah saw dan zaman keemasan islam yang memiliki pemuda-pemuda yang hebat seperti: Ali bin abi thalib, Zubair bin awwam, Zaid bin Haritsah, Muhammad Al-Fatih, Sholahuddin Al-Ayyibi dsb, kenapa?
Kata Kunci: Pemuda, Zaman kemerdakaan, Agama islam, Pemuda hebat.
Pendahuluan
Presiden ke 1 kita Ir.Soekarno pernah berkata “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku ubah dunia”, begitu dahsyatnya ungkapan beliau dalam menggambarkan eksistensi para pemuda.
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk rnanusia, men yuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (TQS. Ali Imran [3]: 110)
Dalam ayat al-Qur'an ini, Allah Swt berfirman kepada kita bahwa umat Islam adalah umat terbaik dari seluruh umat manusia. Namun manakala manusia mengamati realitas yang terjadi pada kaum Muslim saat ini, khususnya realitas pemuda Muslim di Indonesia, mereka pasti bertanya-tanya, "Bagaimana mungkin orang-orang seperti ini merupakan umat terbaik dari seluruh umat manusia?" Jika mereka melihat pemuda-pemuda Muslim terlibat dalam kehidupan gangster dan biasa mengkonsumsi narkoba, ganja, dugem dsb. maka mereka tidak akan dapat melihat perbedaan antara pemuda Muslim dengan pemuda non-Muslim di masyarakat.
Oleh karena itu, kita perlu menengok ke masa lalu, bagaimana pemuda-pemuda Muslim terdahulu tumbuh menjadi pemimpin, bukan sekedar pembebek orang-orang kafir sebagaimana pemuda-pemuda Muslim sekarang ini. Kita juga harus memahami bagaimana potensi pemuda Muslim untuk menjadi pemimpin bagi seluruh umat manusia.
Sejumlah kalangan pemuda Muslim sekarang ini telah kehilangan hubungan dengan pendahulunya. Mereka telah kehilangan hubungan dengan Islam dan sejarah Islam. Celakanya, mereka lebih akrab dengan gaya hidup dan kepribadian Barat, sampai-sampai hal itu mereka jadikan sebagai panutan yang wajib diikuti. Mereka kehilangan jejak orang-orang besar dalam sejarah, yaitu para sahabat Rasulullah saw serta tokoh-tokoh dunia dari kalangan pendahulunya. Padahal Rasulullah Saw telah bersabda: “Jauhilah oleh kalian pakaian yang biasa digunakan oleh ahli syirik.”  (HR. al-Bukhari).
Belajar dari Ali Bin Abi Thalib
Salah satu pemeluk Islam yang paling awal dari kalangan usia yang sangat muda adalah Ali bin Abu Thalib ra. Beliau memeluk Islam atas keinginannya sendiri ketika baru berusia delapan tahun. Kalau kita sekarang berpikir tentang anak yang baru berusia delapan tahun, maka terbayang dalam benak kita anak-anak kecil yang gemar menghabiskan waktunya untuk menonton Naruto, Pokemon, film anak-anak terbaru, atau bermain game-game komputer. Hal ini sama sekali berbeda dengan pribadi Ali bin Abu Thalib ra.
Ali ra masuk Islam sekalipun ayahnya, Abu Thalib, masih tetap dalam keadaan kafir. Ketika beliau ditanya, "Apakah engkau tidak minta izin kepada bapakmu untuk masuk Islam?", maka beliau menjawab dengan tegas, `Allah tidak meminta izin kepada bapakku ketika la menciptakanku. Lantas, mengapa aku harus meminta izin kepada ayahku untuk menyembah-Nya?"

Beliau senantiasa berada di samping Rasulullah saw pada saat-saat awal perjalanan dakwah di Makkah, sekalipun pada waktu itu jumlah pemeluk Islam masih sangat sedikit dan menghadapi permusuhan sengit dari masyarakat. Beliau adalah seorang yang pemberani, sekalipun masih sangat muda. Keberanian beliau terbukti ketika menggantikan Rasulullah SAW berbaring di tempat tidur, yang mana pada saat itu orang-orang Quraisy berkumpul mengelilingi rumah Rasullulah untuk membunuhnya. Masih banyak lagi cerita tentang prestasi-prestasi yang pernah ditorehkan para pemuda muslim dimasa lalu. Hendaknya menjadi teladan bagi para pemuda muslim saat ini untuk merebut kembali kejayaan islam dari para imperialism modern sekarang.
Mereka kesemuanya adalah pemuda dan mereka pernah eksis di muka bumi ini. Mereka memiliki karakter yang jika kita cerminkan ke para pemuda saat ini, maka sangat sulit ditemukan karakter pemuda yang sama seperti mereka. Krisis karakter yang dialami pemuda saat ini, seharusnya sedikit demi sedikit harus kita atasi. Kita mulai mencoba untuk membangun kembali karakter para pemuda, terutama pemuda muslim saat ini. Karakter menjadi sangat urgen karena nasib dari bangsa dan peradaban ini ke depannya berada di tangan para pemuda. Karakter–karakter yang perlu di miliki pemuda muslim itu bisa kita sarikan dari Rasulullah SAW, para sahabat, ataupun para pemuda pejuang lainnya. Lalu apa saja karakter yang sangat esensial dibutuhkan oleh pemuda muslim saat ini? Yaitu jiwa-jiwa yang senantiasa menimba ilmu. Selanjutnya yang perlu dipupuk oleh Pemuda Muslim adalah idealisme yang Islami.
Kata Bijak:
Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain, dan melihat sebelum orang lain melihat. (Leroy Eims).
Langkah-Langkah Menciptakan Pemuda Muslim Yang Tangguh
  1. 1.      Pendidikan
Islam adalah agama yang menempatkan pendidikan dalam posisi yang mendasar, ini menekankan bahwa Islam mendorongkan manusia untuk mengejarkan ilmu pengetahuan sebagai mana firman Allah yang terdapat dalam surat al `Alaq : 1 – 5, yang artinya: bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan kamu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah yang paling Pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan qalam dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat tersebut menegaskan kepada kita kewajban menuntut ilmu pengetahuan dalam rangka memiliki bekal untuk hidup dan kehidupan masa akan datang. Hal ini pertangda bahwa langkah pertama dalam rangka mempersiapkan generasi Qur’ani hendaknya melalui pendidikan yang baik. Baik melalui pendidikan dalam rumah tangga, pendidikan masyarakat dan pendidikan formal melalui berbagai lembaga pendidikan sebagai pengemabangan dan pembinaan sumber manusia akan lebih baik yang pada saatnya mampu bersaing dengan potensi yang dimilikinya serta siap menjadi pemimpin dimasa akan datang.
  1. 2.      Pembinaan Iman dan Tauhid
Surat Luqman : 13 :
وَإِذْقَالَ لُقْمَانَ لإِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُو يَابُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ، إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ. (لقمان: 13)
Artinya: Dan ingatlah ketiak luqman berkata kepada anaknya, ketika memberi pelajaran kepada anaknya janganlah engkau mempersekutukan Allah, karena syirik itu adalah kedlaliman yang besar.
Bila kirta pahami ayat tersebut, pendidikan tauhid menrupakan pendidikan yang paling pentingdan harus dibina sesuai dengan kemampuan dan kecerdasan sehingga mampu memahami hal-hal di luar jangkauan alat indra manusia. Maka pembentukan iman seharusnya dimulai sejak dalam kandungan, agar tertaman nilai-nilai aqidah bagi setiap generasi yang akan datang.
  1. 3.      Pembinaan Akhlak
Akhlak merupakan inplimentasi dari dari iman dalam segala bentuk perilakunya. Pendidikan akhlak secara baik sejak dalam keluarga yang bersember dalam nilai-nilai ajaran Islam. Melalui akhlak yang baik melahirkan kepribadian yang dapat dicontohkan kepada masyarakat secara umum. Maka perhatian yang penting dalam membina generasi yang mendatang penekanan dalam berbagi segi yang bertujuan pembentukan akhlak dalam berbagi aspek kehidupan
  1. 4.      Pembinaan Ibadah
Dalam Alquran manusia diperintahkan melaksanakan ibadah. Firman Allah dalam surat Azd Zdariyat: 56
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
artinya: “Dan aku tidak menjadikan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku”. Ibadah adalah tugas pokok bagi manusia.

  1. 5.      Pembinaan Budaya Islami
Dalam mewujudlan generasi Islam yang Qurani di NAD diperlukan tentang suasana dan budayan yang Islami sehuinggamampu mengantisipasi ere globalisasi massa kini dan masa yang akan datang. Mustafa al Siba`i menginfentarisir sejumlah budaya yanag Islami yang dibangung untukk mempersiapkan manusia yang handal. Hal ini melalui 6 faktor, yaitu:
  1. Keimamnan yang kokoh
  2. Ilmu pengetahuan dan tehnologi
  3. Kehidupan ekonomi yang handal
  4. Toleransi yang kuat
  5. Pelayanan sosisal yang intensif
  6. Pergaulan yang kreatif dan mandiri
Keenam langkah pembinaan generasi muda yang telah tersebut di atas merupakan sebagian kecil dari berbagai langkah yang lain yang haris ditempuh dalam upaya mempersiapkan pemimpin Islam di masa yang akan datang mempunyai komitmen tinggi terhadap nilai-ailai aqidah. Maka melalui empat langkah tersebut mari kita lakukan tahap demi tahap sehingga terbentuk generasi yang memiliki ciri-ciri : komitmen yang kuat pada kebersamaan dan ukhuwah Islamiah, memiliki ilmu pengetahuan dan skill serta etos kerja yang memadai, memiliki optimisme bahwa perjalanan sejarah Islam adalah perjalanan yang teologis melalui proses yang terus menerus menuju kebaikan dan kebersamaan.
Karakteristik  Pemimpin
Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nizhamul Hukm fil Islam memberikan syarat-syarat –dengan argumen syar’i—yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang khalifah sebagai pemimpin publik tertinggi negara dalam perspektif Islam sebagai berikut : (1) muslim; (2) laki-laki; (3) dewasa (baligh); (4) berakal; (5) adil; (6) merdeka; dan (7)  mampu melaksanakan amanat Khilafah, yakni menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw.  Selain syarat sahnya baiat seorang Khalifah di atas, An Nabhani juga menambahkan syarat tambahan –keutamaan, bukan keharusan—berupa: (1) mujtahid, yakni seorang yang ahli menggali hukum syar’I dari sumber-sumber hukum syariah (Al Quran, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas); (2) pemberani; (3) politikus ulung; (4)keturunan Quraisy atau Ali bin Abi Thalib.
Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al Afkar as Siyasiyyah menyebut beberapa karakteristik untuk seorang pemimpin publik sebagai berikut:
  • Pertama, berkepribadian kuat.  Rasulullah saw. menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus kuat, tidak lemah. Orang lemah tidak pantas menjadi pemimpin.  Diriwayatkan dari Abu Dzar  bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Wahai Abu Dzar, aku melihat dirimu adalah orang yang lemah. Dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku.  Janganlah engkau menjadi amir (pemimpin) dari dua orang.  Dan janganlah kkamu mengurus harta anak yatim” (HR. Imam Muslim).
Abu Dzar juga menuturkan bahwa dia berkata kepada rasulullah saw.:
“Wahai Rasulullah, tidakkan engkau mengangkatku (menjadi pejabat)?  Kemudian Rasulullah saw. menepuk pundakku, dan berkata: “Wahai Abu Dzar, kamu adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan ini adalah amanah, dan pada hari pembalasan akan menjadi kehinaan dan sesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai dengan haknya dan menunaikan kewajiban dalam kepemimpinannya” (HR. Muslim).
Kuat dan lemah yang dimaksud dalam hadits ini adalah kekuatan kepribadian (syakhshiyyah) , yakni pola pikir (aqliyyah)  dan pola jiwanya (nafsiyyah).
Oleh karena itu, pola pikir seorang pemimpin harus menyatu dengan kepemimpinannya.  Dengan  itu  dia dapat memahami berbagai masalah yang menjadi tanggung jawabnya.  Demikian juga, pola jiwanya juga harus menyatu dengan kepemimpinannya.  Dengan itu dia akan menyadari bahwa dia seorang pemimpin, sehingga dia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungannya sebagai pemimpin.    
  • Kedua,  bertakwa.  Karena kekuatan kepribadian  seorang pemimpin sangat berpengaruh pada kepemimpinannya, maka seorang pemimpin harus memiliki kualitas yang mampu menjauhkannya dari pengaruh-pengaruh buruk.  Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki sifat takwa pada dirinya, baik secara pribadi, maupun dalam hubungannya dengan tugas dan tanggung jawabnya memelihara urusan rakyat.  Diriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya, bahwa ia menuturkan:
“Rasulullah saw. apabila mengangkat seorang pemimpin pasukan atau suatu ekspedisi pasukan khusus, maka beliau mewasiatkan takwa kepadanya dan berbuat baik terhadap kaum muslimin yang bersama dengannya (anak buahnya)”  (HR. Muslim).
Seorang pemimpin yang bertakwa akan senantiasa menyadari bahwa Allah SWT senantiasa memonitornya (muraqabah) dan dia takut kepada-Nya, sehingga dengan demikian dia akan menjauhkan diri dari sikap sewenang-wenang (zalim) kepada rakyat maupun sikap abai terhadap urusan urusan rakyat.  Khalifah Umar r.a., pemimpin negara Khilafah yang luas wilayahnya meliputi Jazirah Arab, Persia, Irak, Syam (sekarang : Syria, Yordania, Lebanon, Israel, dan Palestina), serta Mesir,   pernah berkata:  “Andaikan ada seekor hewan di Irak  kakinya terperosok di jalan, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku kenapa tidak mempersiapkan jalan tersebut (menjadi jalan yang rata dan bagus)”(lihat Zallum, idem).
  • Ketiga, belas kasih.  Seorang pemimpin harus punya sifat belas kasih kepada rakyatnya.  Ini diwujudkan secara konkrit dengan sikap lembut dan kebijaksanaannya yang tidak menyulitkan rakyatnya.  Diriwayatkan bahwa istri Rasulullah saw., Aisyah r.a. pernah berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan pemerintahan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia.  Dan siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut (bersahabat) kepada mereka, maka lembutlah kepadanya”. (HR. Muslim).
Dalam kaitan ini juga Rasulullah saw. mengajarkan agar pemimpin itu bersikap memberi kabar yang baik, bukan bersikap menakutkan.  Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari r.a. (yang diutus menjadi Wali/Gubernur di Yaman) bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Gembirakanlah (rakyat) dan janganlah engkau hardik, dan permudahlah mereka dan jangan engkau persulit (urusan mereka)” (HR. Bukhari).
  • Keempat, jujur dan penuh perhatian. Seorang pemimpin haruslah jujur dan penuh perhatian dalam mengurus urusan rakyat sehingga rakyat bisa terpenuhi kebutuhan mereka dan menikmati layanan pemimpinnya.  Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang memimpin pemerintahan kaum muslimin lalu dia tidak serius mengurusnya, dan tidak memberikan nasihat yang tulus kepada mereka, maka dia tidak akan mencium harumnya aroma surga”. (HR. Imam Muslim).  Dalam hal ini perhatian pemimpin bukan saja untuk memelihara terpenuhinya kebutuhan fisik rakyat, tapi juga kebutuhan ideologis, agar mereka tetap di jalur kehidupan yang mengantarkan kepada jalan menuju keridloan Allah SWT sehingga rakyatnya sukses dunia akhirat.
  • Kelima, istiqamah memerintah dengan syariah.  Seorang pemimpin yang jujur memimpin kaum muslimin akan melaksanakan pemerintahannya berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.  Diriwayatkan bahwa ketika Muadz bin Jabal diutus menjadi Wali/Gubernur di Yaman, Rasulullah saw. menanyainya bagaimana cara dia memerintah.  Nabi bertanya kepadanya: “Dengan apa engkau memutuskan perkara?”  Muadz menjawab: Dengan Kitabullah”.  Rasul bertanya: “Dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya (di dalam Al Quran)?”.  Muadz menjawab: “Dengan Sunnah Rasululllah”.   Rasul berkata: ““Dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya (di dalam Al Quran maupun As Sunnah)?”.   Muadz menjawab: “Aku akan berijtihad”.  Kemudian Rasulullah saw. berucap: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah ke jalan yang disukai Allah dan Rasul-Nya”.  (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi).

Khatimah
Kita berharap lima karakteristik kepemimpinan di atas menjadi kesadaran dan opini umum masyarakat sehingga aspirasi dan kecenderungan rakyat adalah memilih pemimpin yang berkarakter seperti itu. Karena rakyat yang muslim beriman kepada Allah dan rasul-Nya pasti berharap agar para pemimpinnya benar-benar punya kehendak baik kepada rakyat kaum muslim seperti sifat Rasulullah saw. (lihat QS. At Taubah 128) dan punya kesiagaan dan kewaspadaan tinggi untuk menjaga kemaslahatan dan keselamatan rakyat dengan syariah seperti perintah Allah SWT kepada Rasulullah saw. (lihat QS. AL Maidah 49).  Mudah-mudahan dengan munculnya karakter kepemimpinan seperti itu dalam diri para pemimpin di negeri ini khususnya dan untuk para pemuda pemimpin masa depan, krisis yang melanda selama ini cepat di atasi.   Wallahua’lam bishawab!
 oleh :
Mochammad Ilham Ulumuddin Bea Mandiri ke VI DPU DT Jogja
Referensi;
Abdul Qadim Zallum, kitab Al Afkar as Siyasiyyah, Darul Ummah, Beirut, 1994.
Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nizhamul Hukm fil Islam Darul Ummah, , Beirut, 2001.
Tabloid Remaja Muslim, Pede Dong jadi Remaja Muslim!, Edisi 193/Tahun ke-5 (3 Mei 2004) .
Arief Anwar Nur Muhammad, Membangun Generasi Yang Hilang, Daar Al-Qosimi Cet : Pertama thn: 1424 H.
Pembentukan Generasi Qur`Ani Dalam Mewujudkan Kebangkitan Islam Di Nad, Artikel, (Penulis, tanggal dan tahun tidak diketahui).
Riyan Fajri, Cermin Pribadi Pemuda Muslim, Artikel Lepas, 29/11/2011 | 03 Muharram 1433 H