Hakikat sabar sebenarnya ada 3 macam, yaitu :
  1. Sabar atas taat
  2. Sabar atas  maksiat
  3. Sabar atas musibah
            Sabar dalam hal ini menyangkut sabar hati dan sabar tindakan. Kenapa harus sabar dalam hati dan dalam tindakan?, karena sabar hati menentukan keberhasilan kita dalam melakukan tindakan yang akan kita tempuh. Dimanapun kita selalu dituntut sabar dalam menghadapi apa yang sedang kita hadapi.
            Misal dalam hal menuntut ilmu, kita akan berhasil bila kita dalam menuntut ilmu sabar dalam belajar, dalam menyelesaikan kesulitan yang kita hadapi, sabar dalam menghadapi hal-hal yang mungkin timbul dikala kita sedang menuntut ilmu. Dalam belajar juga sama demikian, kita dituntut sabar dalam bekerja dan dalam berikhtiar mendapatkan rezeki. Dalam berikhtiar akan mendapatkan rezeki  akan lebih komplek lagi masalah yang akan ditemui. Dari yang mula-mula mencari kerja atau peluang kerja, sampai kita mendapatkan kerja, kita temui tantangan dalam bekerja bahkan sampai ke hal persaingan dan sampai tidak tercukupi kebutuhan hidup dengan gaji yang kita dapatkan. Maka sabar sangat dituntut dalam berbagai hal dan aspek kehidupan.
            Dikala kita berusaha mencari rezeki halal banyak orang mengeluh susah, sulit sehingga mereka yang tipis imannya mencari jalan pintas. Mereka hanya bertujuan mendapatkan rezeki dengan jalan apapun, mereka takut lapar, takut kekurangan, takut sendiri, takut kesusahan. Mereka tidak berfikir bahwa Allah SWT tidak akan membuat kelaparan hambanya yang mau berusaha dan ingat bahwa Allah SWT juga akan menguji hambanya dengan rasa kelaparan, ketakutan, kesusahan untuk menguji sejauh mana keimanan mereka. Ujian itu sebenarnya untuk memisahkan derajat antara satu mukmin dengan mukmin lainnya.
            Seperti dalam Firman Allah SWT : “Dan sesungguhnya Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar, Iaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali” ( Al Baqarah : 155-156)
            Kita jumpai banyak kejadian yang kadang disalahkan dalam memaknai kesabaran Coba kita renungi kata-kata sabar dalam meramaikan majelis keagamaan, ramai disini bukan bermakna onar, ataupun membuat rusuh agar banyak orang yang datang atau melihat. Tetapi memanfaatkan majelis keagamaan dengan hal-hal positif dan bermakna untuk mendekatkan diri kita kepada Alloh SWT. Kita ramaikan majelis keagamaan dengan hal positif agar tidak mencemari majelis keagamaan tersebut. Kenapa kita tekankan ke hal positif, karena di zaman sekarang ini banyak majelis keagamaan disalah fungsikan dengan hal yang berbau keduniawian dan bahkan ada yang bermaksiat di majelis keagamaan.
            Kita kadang menjumpai di majelis keagamaan sebagai wahana berjualan, wahana nge date, tempat pamer, tempat ngrumpi, tempat negative lainnya. Kita lupa bahwa majelis keagamaan tempat mencari ilmu, memperbaiki akhlak kita, tempat silaturohim sesama muslim. Demikian adanya kenyataan yang ada di zaman sekarang ini. Mudah kita membuktikan akan adanya pernyataan ini, karena kita dapat dengan mudah menjumpai hal ini.
            Kita lihat betapa kita sulit menghimpun orang-orang untuk ke majelis keagamaan, untuk mengajak mereka belajar keagamaan. Berbagai alasan yang kadang kita terima menghadiri majelis keagamaan terasa berat, alasan sibuk bekerja, capek, sibuk mengurus keluarga, sibuk mencari uang, bahkan kadang kita jumpai mereka mengajukan alasan bahwa sayang meluangkan waktu untuk ke majelis keagamaan, karena akan menghambat waktu atau membuang waktu. Demikian bisa kita jumpai akan kesalahan fungsi atau kesalahan dalam kita memaknai hakekat majelis keagamaan sebenarnya.
            Dengan bersabar dalam ketaatan sebenarnya kita mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, dan Allah SWT memberikan kita kenaikan darjat di Syurga.Demikian pula orang yang sabar meninggalkan larangan Allah SWT maka Allah SWT juga akan meningkatkan darjat baginya, juga bagi orang yang sabar dengan bencana.
            Menghadiri majelis keagamaan merupakan salah satu bentuk dari contoh kesabaran dalam ketaatan. Karena majelis keagamaan merupakan wahana mencari ilmu, sedangkan mencari ilmu wajib hukumnya bagi setiap orang muslim. Mulai dari ayunan hingga ke liang lahat, adalah wajib bagi tiap muslim. Disini kita melihat orang-orang umum yang sibuk dengan aktifitas sehari-harinya. Tiada sempat bagi seseorang yang sudah berkeluarga misalnya belajar seperti belajar di pesantren, atau belajar di sekolah keagamaan. Maka dalam hal ini untuk selalu menyegarkan dan belajar, walau hanya dalam waktu berkala majelis keagamaan merupakan wahana yang penting dan dibutuhkan oleh masyarakat.
            Dalam majelis keagamaan ini masyarakat umum bisa belajar sedikit demi sedikit menyegarkan ingatan bagi yang sudah berlatar belakang agama yang baik. Sedangkan bagi yang belum, maka disini dapat diperoleh ilmu, siraman rohani, dan bisa sebagai wahana silaturohim. Perlu diingat selalu bahwa, dimanapun kita berada sebenarnya kita memerlukan saudara, dan silaturohim sebagai cara kita mendapatkan saudara. Dan dengan silaturohim juga akan mendapatkan pengalaman juga bisa memperbanyak rezeki.
            Dalam kehidupan kita sebenarnya kita tidak hanya dituntut untuk mencari rezeki atau harta dunia saja. Tetapi kita juga diwajibkan beribadah kepada Allah SWT, secara mutlak apa yang menjadi perintahNya. Jadi mencari rezeki sebenarnya sebagai syarat untuk memudahkan kita beribadah kepada Allah SWT agar kita menjadi kuat dan tenang dalam beribadah dalam keadaan tercukupi. Tiada kita memikirkan beban hidup, tidak memikirkan perut dikala kita sedang beribadah. Tapi kenyataan tidak bisa kita pungkiri, kadang karena kerja ibadah merupakan peghalang bagi kerjaan mereka. Bahkan dinilai sebagai pembuangan waktu, tidak hanya dalam ibadah tapi dalam majelis dan kegiatan keagamaan lainnya.
            Kita terlalu focus dalam kerja dan mengutamakan kerja, untuk memenuhi kebutuhan jasmani kita, sehingga lupakan kebutuhan rohani kita. Banyak kita jumpai dimana-mana, hal ini sebenarnya suatu pandangan keliru. Karena rohani lebih berefek kepada diri seseorang. Terutama jiwa seseorang, yang notabene jiwa merupakan factor yang lebih dominan mempengaruhi kita.
            Waktu yang ada pada kita sebenarnya telah diatur oleh Allah SWT, seperti contoh 24 jam dalam sehari semalam. Bila kita menyadari bahwa waktu tersebut dibagi dalam 3 hal yaitu istirahaat rohani 1/3 dari itu, beribadah 1/3 dari itu, bekerja atau berusaha untuk kebutuhan jasmani 1/3 dari itu. Sungguh Allah SWT benar-benar telah memahami apa yang ada di dunia ini yang Allah SWT ciptakan. Manfaatkan waktu, harta dan umur kita sebaik-baiknya sebelum waktu, harta dan umur kita habis. Karena waktu, harta dan umur tersebut akan habis dan pasti habis baik dijalankan di jalan Allah SWT ataupun untuk urusan yang lainnya.
            Jadi secara mudahnya untuk berpikir, bahwa waktu sebenarnya yang mengantarkan kita kepada  keberhasilan atau keterpurukan. Waktu yang akan menjadikan kita menjadi raja atau menjadi bawahan. Waktu benar-benar emas perumpamaan tersebut memang benar dan tepat. Cara kita membiasakan mempergunakan waktu akan menjadi cerminan masa depan kita.
            Kita bisa melihat pada diri kita dan orang lain, sesibuk-sibuk apapun kita harus tahu dan memahami bahwa mengkaji tentang ilmu adalah wajib dan penting, bagaimanapun keadaan kesibukkan kita. Karena kita akan mengetahui hal-hal yang tidak kita paham, dikala kita mengadakan pengajian ilmu. Pengkajian ilmu dapat berupa apa saja, seperti majelis keagamaan, majelis tanya jawab, pengajian dan kegiatan yang lain yang berbau agama. Ibarat suatu lautan adalah ilmu, semakin kita tahu, kita semakin haus. Kita semakin ingin mendalami dan mendapatkan yang lebih. Tapi sebagian orang menganggap uang segalanya juga, sehingga mereka tiada memperdulikan ilmu apalagi ilmu agama.
            Banyak contoh yang ada disekitar kita bahwa banyak orang yang berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan harta, uang, materi. Mereka melupakan hal-hal yang berbau agama, dan menganggap hal-hal yang berbau agama hanya sesuatu yang menyita waktu dan mengganggu kerja mereka. Banyak bukti dan hal begini kita lihat di sekeliling kita.
            Jadi sebagai wahana yang penting dalam masyarakat majelis keagamaan sebenarnya sangat penting dan sangat diperlukan oleh orang-orang umum, yang notabene jauh dari hal-hal yang berbau agama. Maka sangat diperlukan sekali majelis keagamaan dalam masyarakat untuk selalu memantapkan keimanan dalam hidup kita. Bahwa perlu kita selalu ingat bahwa materi akan habis entah itu kita pergunakan dalam hal agama ataupun bukan. Begitu pula waktu juga akan habis baik untuk hal agama maupun bukan. Maka dari itu sebelum kita kehabisan materi dan waktu, sesibuk apapun kita, kita berusaha untuk selalu mengkaji dalam kegiatan majelis keagamaan yang insya alloh kita akan mendapatkan hal positif di dalamnya.
            Dan memanfaatkan majelis keagamaan dengan hal-hal yang benar-benar berdampak positif bagi kita. Jangan kita gunakan majelis keagamaan dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan agama. Bahkan untuk hal-hal yang tidak sepatutnya. Sangat dianjurkan untuk menghindari hal-hal yang negatif ke dalam majelis keagamaan, untuk menghilangkan efek negatif pada diri kita. Dan semua itu bermula dari hati kita, dikala kita berniat hanya kita mengharapkan ridhoNya, bukan karena hal lain