Abstrak
Beberapa bulan terakhir ini negeri kita Indonesia didatangi oleh beberapa artis idola mancanegara. Super junior, Boyband papan atas korea selatan yang sedang naik daun ini, pada akhir april lalu sempat membius para ELF Indonesia, sebutan untuk Fans Super Junior. Sebelumnya juga datang artis pop Amerika Katty Peri, mengguncang Jakarta dan yang paling menghebohkan rencana kedatangan “Mother Monster” alias Lady Gaga ke Indonesia. Artis kontroversial yang satu ini memang dikagumi oleh para “Little Monster” karena gaya penampilannya diatas panggung yang unik. Atas rencana kedatangannya itu, banyak kalangan yang menolak kehadirannya di Jakarta karena beberapa hal. Sebenarnya, siapakah yang layak kita jadikan idola?
Kata Kunci: Idola Mancanegara, mengguncang Jakarta, dikagumi, menolak.
Pendahuluan
Sering kita melihat kepolosan anak-anak usia belasan tahun yang ketika ditanya tentang siapakah idola mereka, maka akan keluar jawaban superman, batman, spiderman, satria baja hitam, ultramen dsb. Bagi mereka idola adalah seorang pahlawan yang selalu membela yang benar, dan memerangi kejahatan seperti para super hero diatas.
Dalam syiarmajelis.blogspot.com Kodar menuliskan bahwa sosok idola adalah sosok yang menjadi inspirasi kita, yang peri hidupnya sangat kita hayati, yang selalu terngiang-ngiang dalam fikiran dan hati kita, yang selalu kita rindui, yang fotonya senantiasa terpampang di dinding kamar kita, yang gerak geriknya kita tiru, gaya pakaian, model rambut, gaya bicara, gaya senyuman, semuanya kita tiru.
Buah fikiran dan pendapatnya kita jadikan panduan hidup dan sikap kita. Berita atau kabar tentangnya senantiasa kita ikuti, kita buru dan kita tanyakan, dan yang paling dahsyat adalah kita akan dilanda sindrom “speechless, salting [salah tingkah], gemetar, keringat dingin dan gugup serta jantung berdebar” ketika bertemu dengannya atau hanya dengan memandang fotonya saja. Atau mungkin hanya dengan teringat tentangnya saja kita sudah dilanda sindrom itu. Idola bagi sebagian orang, serasa tak sanggup hidup tanpanya, tak sanggup hidup tanpa memikirkannya, hidup rasa sepi tanpa kehadirannya dalam hati, hidup mati untuk mengaktualisasikannya dalam diri, sanggup menangis tertawa, berjuang dan berkorban untuknya. Begitulah idola, terkadang UNDEFINED.
Ada contoh cerita yang ditulis Prima Arina dalam voa-islam.com, berikut penuturannya: “Faiz suka banget sama grup band Armada, walaupun lagunya kadang-kadang “melo” tapi menurut Faiz, Armada tuh “gue banget”. Hitsnya selalu menjadi hapalan wajib. Sampai hits terbaru armada jadi ringtone hape Faiz. Dia pun selalu rajin mengikuti perkembangan band favoritnya tersebut lewat fb. Faiz pun mengikuti gaya rambutnya Rizal sang vokalis, hanya saja Faiz nggak berani ikutan gondrong karena di sekolahnya, siswa lelaki dilarang keras berambut gondrong”.
“Lain lagi dengan Dinda. Gadis manis yang selalu berjilbab cerah itu ternyata nge-fans berat sama SuJu (Super Junior). Meskipun teman-teman ROHIS (Rohani Islam) -nya sudah mengingatkan Dinda untuk tidak menonoton konser SuJu di Ancol akhir bulan lalu tapi diam-diam Dinda pergi juga menonton. Itu pun tanpa sepengetahuan ayah dan Ibu Dinda. Dinda berpamitan pada orangtuanya untuk menginap dalam rangka belajar bersama di rumah salah seorang teman yang sudah dikenal orangtuanya.
Pulang dari konser SuJu, Dinda terlihat murung. Dinda malah merasa tidak mendapatkan kepuasan apa-apa. Berdesak-desakan dengan ELF (penggemar SuJu), menonton idolanya bergaya di panggung, dan berusaha untuk fun menikmati hentakan musik, tapi entah mengapa Dinda malah merasa semua itu sia-sia. Dinda malah merasa bersalah telah berbohong pada kedua orangtuanya”.
Muhammad SAW, Panutan Kita Semua
Masih menurut Prima, Idola memang diperlukan dalam pengembangan kepribadian seseorang. Karena, manusia pada dasarnya memang membutuhkan panutan yang bisa menjadi cermin saat harus menentukan apa yang harus dipilih. Punya idola memang naluriah tetapi mencari dan menetapkan siapa idola kita, juga harus benar-benar sosok yang luar biasa yang bahkan lebih mulia dari kita manusia biasa. Jangan sampai idola kita tersebut malah membuat kita menjauhi kebenaran, semakin dekat dengan keburukan, bahkan membuat kita lalai dari Allah SWT.
Jangan sampai kita terjebak pada kekaguman kita pada sang idola kemudian melakukan hal negatif seperti yang dilakukan oleh Dinda yang berbohong pada orangtuanya. Juga jangan mengidolakan orang yang mendorong kita atau membiarkan kita melakukan tindakan yang buruk.
Oleh karena itu, idolakanlah orang yang mendorong kita untuk selalu dekat dengan kebaikan bahkan yang pertama kali konsisten melakukan kebaikan tersebut. Maka, tentu tidak ada pilihan yang terbaik kecuali Rasulullah SAW. Soalnya, tentu kita tidak mengetahui seorang pun yang menyamai Rasulullah dalam hal kebaikan dan teladan untuk selalu taat kepada Allah SWT. Mengapa kita harus tahu siapa dan bagaimana idola kita? Sebab, Allah SWT bertitah gini, Sobat:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati; semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (Qs Al-Israa:36)
Insya Allah, mencintai dan mengidolakan Rasulullah tidak akan membuat kita ilfil (ilang feeling) seperti yang dialami Dinda selepas nonton konsernya SuJu. Mengidolakan Rasulullah SAW justru akan membuat kita lebih semangat berbuat kebaikan. Mengikuti Rasulullah SAW juga akan membuat hati kita berbunga-bunga selalu karena akan banyak orang yang juga semakin mencintai kita karena pribadi kita yang semakin mempesona. Untuk mempertegas Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang terjemahannya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan banyak berzikir kepada Allah” [QS. Al Ahzab : 21].
Berikut beberapa hal yang harus kita teladani dari Muhammad SAW menurut Ust.H.Sunan Sudrajat dalam Artikelnya yang berjudul Sifat, Teladan Rasulullah SAW (How Tobe A Moslem-Professional) :
1)      Fathonah (cerdas) Sebagai orang yang terpilih (the chosen one) untuk menyampaikan kebenaran yang hakiki, serta tanda-tanda kekuasaan Allah, maka dia haruslah seorang yang cerdas. Cerdas tidak hanya secara intelektual (IQ), tapi juga cerdas secara emosional dan spiritual (ESQ). Sifat fathonah (kecerdasan) di dalam diri Rasulullah lebih dimatangkan oleh kecerdasan emosional dan spiritual, karena beliau tidak pernah melewati pendidikan formal khusus untuk mengasah intelektualnya,
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka…” [QS. Al-Jumu’ah : 2].
Oleh karena itu, apabila seseorang ingin meningkatkan performa dalam bidang pekerjaannya, maka dimulailah dengan meningkatkan pengendalian emosi dan kualitas spiritual melalui suatu mekanisme D.U.K.U.N.

I.1. DO’A
Do’a adalah ruhnya ibadah, dan ibadah dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yakni ibadah vertical kepada Allah (maghdhoh) dan ibadah horisontal kepada sesama manusia (ghoiru maghdhoh). Seorang professional muslim di dalam melakukan suatu pekerjaan selalu dimulai dengan do’a. Do’a yang bernafaskan peng-Esaan, pengharapan dan perlindungan dari Sang Pencipta Alam Semesta – Allah Rabbul ‘Alamiin – sehingga dari dalam dirinya terpancar Inner motivation – motivasi yang didorong oleh nilai-nilai ketaqwaan untuk sugguh-sungguh melakukan ikhtiar dengan sempurna, tanpa mengesampingkan nilai tawakal sebagai hasil akhir, bismillahi tawakaltu ‘alallah, laa haula wa laa kuwwata illa billah.
I.2. USAHA
Ada usaha untuk selalu melakukan yang terbaik dengan kekuatan do’a, memperbaiki segala kekurangan di dalam diri, mau belajar dari kesalahan serta memiliki kemauan untuk tampil sebagai seorang professional dan menggantungkan tawakal sebagai hasil akhir - fa idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallah – jika telah membulatkan tekad maka berserah dirilah kepada Allah.
I.3. KOMITMEN
Seorang professional muslim dengan komitmen keimanannya kepada Allah Swt dan RasulNya, maka ia kembangkan esensi komitmen tersebut didalam profesinya. Komitmen untuk maju dan berlaku jujur (tidak mencampur-adukkan antara urusan pekerjaan dan pribadi) serta komitmen untuk taat dan tunduk terhadap peraturan perusahaan atau tempat dimana dia bekerja.
Allah Swt berfirman :
 “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada RasulNya serta ‘ulil amri diantara kamu…” [QS. An Nisaa : 59].
‘Ulil amri tidak hanya dalam urusan negara, tapi dapat juga dalam skala kecil yakni instansi perusahaan tempat dimana dia bekerja.
I.4. ULET
Bekerja keras, sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang mukmin (it taqullaha haqqa tuqoo tihi) – bertaqwa dengan sungguh-sungguh dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dia terapkan dalam dunia profesinya dengan sungguh-sungguh bekerja, sehingga terbentuk sosok pribadi yang ulet, pekerja keras, penuh dedikasi dan memiliki loyalitas yang tinggi.
I.5. NIKMATI (enjoy)
Nikmatnya beribadah serta nikmatnya berzikir mengagungkan Allah, itulah kenikmatan dan kebahagiaan hakiki yang dirasakan oleh seorang professional muslim, serta mengalir pada setiap langkah profesinya. Bersyukur menjadi ukuran keberhasilannya dan meyakini bahwa Allah telah mengatur dan menentukan segala sesuatu untuk hambanya termasuk rezeki (wa fis samaa’I rizku-kum)-telah ditentukan untukmu rezekimu dilangit tanpa mengesampingkan kerja keras untuk meraih kesuksesan. Maka muncullah nilai Qona’ah – enjoy menerima apa adanya dari Allah Swt tanpa menuntut yang lebih sebelum melakukan usaha atau kerja keras serta doa yang senantiasa dipanjatkan dan selalu setia menunggu keputusan akhir dari Allah termasuk tentang rezeki, tanpa mengambil jalan pintas dan tanpa pula berdiam diri.
2)      Amanah
Rasulullah Saw mendapat tugas dari Allah untuk menyampaikan pesan atau wahyu kepada manusia. Pesan itu beliau sampaikan tanpa menambah atau mengurangi isi daripada pesan itu, sehingga yang sampai kepada manusia murni sebagai wahyu Allah.
Allah Swt berfirman :
“Tidaklah ucapan (Muhammad) itu dari hawa nafsunya, kecuali wahyu yang diwahyukan” [QS. An Najm : 3-4].
Tugas sebagai pembawa pesan beliau laksanakan penuh dedikasi, karena semata-mata amanah dari Allah Swt. Sifat amanah tersebut juga tercermin dalam hubungan beliau dengan sesama manusia. Sebagai contoh manakala terjadi hubungan dagang dengan seorang yahudi, dimana beliau dipesan untuk menjualkan seekor unta miliknya dengan harga jual yang diamanahkan. Yahudi itu menaruh hormat karena walaupun hasil penjualan unta itu melampaui harga sebenarnya, tapi beliau tetap melaporkan hasil penjualan seluruhnya.
Seorang professional muslim ketika diamanahkan oleh suatu perusahaan untuk menduduki posisi tertentu, haruslah dilaksanakan penuh tanggung jawab dan bersungguh-sungguh. Dia tidak mau menerima yang bukan haknya, dan tidak pula menahan hak oranglain, karena dia sadar bahwa pekerjaan, jabatan yang dia embah adalah hakekatnya amanah dari Allah. Dia tembuskan pengabdian pekerjaannya itu karena Allah Swt, dan dia sadar bahwa pekerjaan, jabatannya sewaktu-waktu akan lepas dari genggamannya, karena ia menyadari bahwa Allah-lah Yang Maha Kekal dan Abadi dan akan melakukan pergiliran diantara manusia.
Allah Swt berfirman :
“Apa yang ada padamu hilang-sirna dan apapun yang di sisi Allah kekal abadi” [QS. An Nahl : 96].
3)       Shiddiq
Kata shadiq (orang jujur) berasal dari kata shidiq (kejujuran), kata shiddiq adalah bentuk penekanan (mubalaghah) dari shadiq, yang berarti orang yang didominasi oleh kejujuran. Menjunjung tinggi kejujuran di atas segalanya adalah priinsip hidup Rasulullah Saw. Nabi Muhammad Saw bersabda :
“Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur, dan jika ia tetap berbuat dusta dan berteguh hati untuk berbuat dusta, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Seorang professional muslim yang teguh keimanannya, menjadikan kejujuran (shidiq) sebagai landasan untuk mencapai kesuksesan. Dia selalu memperhatikan etika profesi dan moral serta rambu-rambu agama, sehingga halalan thoyyiban menjadi proses perjalanannya meniti karir meraih sukses. Jujur lisannya, jujur rasa hatinya dan jujur geraknya. Itulah sosok professional muslim dalam genggaman kasih sayang Allah.
Allah Swt berfirman :
 “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan ikuti langkah orang-orang yang jujur.” [QS. At Taubah : 119].
4)      Tabligh
“Hai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak meyampaikan amanat-Nya” [QS. Al Maidah : 67].
Seorang professional muslim dengan akidahnya yang kuat untuk memegang teguh aturan Allah, selalu merealisasikan sifat dan teladan rasulullah, maka sifat tabligh (dakwah) ini akan tergambar pula di dalam profesinya. Dari lisannya akan selalu keluar kata-kata yang baik dan terasa sejuk didengar, kalimatnya berisikan nasehat dan penghargaan pada setiap hasil pekerjaan orang lain, serta berani mengatakan yang benar walaupun terasa pahit untuk diterima. Dari geraknya tergambar kesholehan karena selalu menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim. Tugas pekerjaannya dilakukan penuh dedikasi dan loyalitas yang tinggi. Menjunjung tinggi kejujuran di atas segalanya dan pantang untuk berbohong atau berkhianat. Melaksanakan seluruh aktivitasnya dengan penuh keikhlasan dan cerdas dalam menanggulangi setiap persoalan tanpa ada yang harus merasa tersinggung atau sakit hati. Itulah sosok professional muslim dengan akhlak yang mulia (akhlak al kariim) yang akan memberikan cahaya dan kesejukan dilingkungannya serta memberi dan menjadi contoh dengan akhlaknya itu, sehingga memberi nilai tabligh atau dakwah kepada lingkungannya dimanapun dia berada.
Referensi
  • syiarmajelis.blogspot.com
  • voa-islam.com
    • Artikel yang berjudul Sifat, Teladan Rasulullah SAW (How Tobe A Moslem-       Professional) karya Ust.H.Sunan Sudrajat