Dalam memahami islam saat ini kita harus bersifat kritis terkait penomena  islam yang kita alami saat ini. Kita tahu saat ini islam tidak lagi bersatu, melainkan sudah berkotak-kotak buktinya banyak sekali organisasi islam yang mengkalim dirinya paling benar sehingga diluar mereka dianggap salah dan lebih ekstrim lagi bahkan menghalalkan darah saudara islamnya sendiri. Padahal kita tahu  dalam islam sendiri diharuskan untuk mempelajarinya secara keseluruhan (khaffah) baik dalam aqidah, fiqih, syariah, muamalah, social dan sebagainya. Dengan kita mengetahui semuanya kita bias lebih bijak dalam menyikapi pendapat orang lain yang berbeda pikiran atau bidang oleh kita. Inilah yang menjadi fenomena saat ini banyak dari kita saling klaim kebenaran dan menganggap dirinyalah yang paling benar padahal semuanya sama hanya saja sudut pandang yang dia lakukan dengan kita berbeda misalkan kita berbicara aqidah sedangkan dia berbicara fiqih tentu saja itu sangat berbeda. Saat  ini umat islam memahami islam itu setengah setengah  tidak secara keseluruhan sehingga mereka memandang islam masih dalam meraba-raba, bias diibaratkan seperti dua oramg buta yang ingin merasakan atau ingin tahu bentuk gajah, sehingga mereka orang buta pertama menyimpulkan bahwa sigajah itu seperti tiang. Sedangkan sibuta kedua menympulkan bahwa si gajah seperti kipas. Padahal seperti yang kita ketahui bagi kita yang tahu bahwa gajah itu sanggat besar. Nah dengan hal ini Apa yang dapat kita ambil dari kejadian tersebut. Bahwasanya mereka berdua benar hanya saja mereka memanggap gajah itu seperti tiang karna orang buta pertama tadi hanaya memeluk dan memegang kakinya. Begitu juga dengan orang buta kedua dia memang benar bahwa gajah itu seperti kipas hanya saja dia merasakan anginnya yang dikibas oleh telinga sang gajah. Inilah yang perlu kita ketahui bersama, dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 208  telah di jelaskan:
 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian keda;am islam secara kaffah ( sempurna ) dan janganlah engkau perturutkan kehendak langkah syaiton”.
Sungguh dalam ayat ini menjelaskan kepada kita supaya kita masuk islam dengan cara sempurna dalam artian kita memahami islam didak setengah-tengah. Islam yang sempurna bukan islam yang banyak dipahami oleh masyarakat kebanyakan, yaitu mengambil hal-hal tertentu saja demi kepentingan duniawi. Misalkan  banyak yang rajin solat, puasa, haji, bahkan berhaji beberapa kali namum mereka sering melupakan zakat padahal kita tau zakat merupakan rukun islam. Tak  salah mereka haji berkali-kali dan tidak ada larangan bagi mereka yang mampu namun mereka terkadang tahu bahwa disekeliling mereka masih banayak yang miskin ini artinya betapa ada kesalahan yang sepele namun sebenarnaya menyakut kemaslahatan ummat.
            Zakat merupakan ibadah harta yang wajibnya sama dengan wajibnya solat, ibadah puasa, ibadah haji bagin yang berkuasa menjalaninya. Namun kenapa dari kita enggan membayarnya untuk membayarnya? Zakat mengajarkan kita tentang rasa solidaraitas kita terhadap sesama muslim dan merupakan ibadah syariah yang bersifat social. Kita terkadang sudah merasa sempurna dengan melaksanakan ibadah solat, puasa saja  sedangkan ajaran syariah yang di injak-injak oleh orang kafir kita abaikan. Inilah menjadi tugas kita yang sudah tahu untuk menjelaskan kepada meraka yang belum tahu supaya umat islam bersatu seperti pada awalnya dan dapat kembali kepada fitrahnya yaitu rahmatanlilalamin (rahmat bagi seluruh alam).
Itulah garis besar materi yang saya sampaikan saat pendampingan.