Abstrak

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. “Mantra” klasik yang diambil dari pepatah arab ini sudah sangat popular ditelinga kita. Singkat, padat, dan jelas, begitulah isi “mantra” nya. Siapa pun yang benar-benar menggunakan kata-kata ini, dipastikan apa pun keinginannya akan terkabul. Tidak melihat dia kafir atau beriman, selama kalimat ini diamalkannya, maka semua tujuannya akan tercapai. Intinya peribahasa ini menekankan kesungguhan, jika ingin mencapai sesuatu maka harus bersungguh-sungguh atau serius.
Kata Kunci: Sungguh-sungguh, Pepatah arab, Terkabul, Tercapai, Serius.
 Pendahuluan
Pepatah ini memberi inspirasi yang luar biasa kepada setiap orang, dampaknya pun dapat dirasakan oleh sebagian besar yang menggunakan mantra ini. Indra dalam blog pribadinya menuliskan:
Manjadda wajada adalah kata mutiara arab yang artinya barang siapa bersungguh sungguh maka dapatlah ia, arti kata mutiara ini adalah barang siapa dalam segala hal bersungguh sungguh maka dapatlah dia baik itu tujuan, perihal, pekerjaan, hubungan rumah tangga, perjalanan hidup, dll yang pada intinya peribahasa ini menekankan kesungguhan jika ingin mencapai sesuatu maka harus bersungguh sungguh atau serius.
Kata mutiara ini menekankan kita senantiasa selalu bersungguh sungguh dalam segala hal agar tujuan kita tercapai, kalau sudah ada kesungguhan maka kita tinggal menikmati hasil yang kita inginkan atau yang memang sudah di rencanakan, karena dengan kesungguhan itulah orang akan senantiasa berlaku serius atau tekun atau bahkan masih banyak lagi untuk melukiskan orang yang senantiasa bersungguh sungguh dalam mengerjakan apa yang memang diinginkannya sehingga sudah barang tentu semua itu harus ada kesungghan.
Kata mutiara ini sudah banyak dibuktikan oleh orang-orang sukses yang dengan kesungguhan mereka berhasil mengubah dunia ini bahkan hal yang tergolong luar biasa, mereka semua sukses bukan karena kekaya waarisan atau karena pemberian orang lain tapi kesuksesan mereka dapatkan dari perjuangan mereka yang tak kenal lelah dan leti, oleh karena itu jika ingin sukses kita semua harus senantiasa bersungguh sungguhdalam segala hal yang kita kerjakan.
Kita bisa lihat bagaimana karena kesungguhannya wright bersaudara berhasil menciptakan kapal terbang yakni alat transportasi yang luar biasa pada saat itu bahkan sampai sekarang, bagaimana tidak yang dulunya jarak suatu tempat harus ditempuh dengan waktu yang sangat lama tapi sekarang bisa ditempuh dengan waktu yang sangat cepat, walau hanya sepele tapi sebenarnya kata mutiara ini lebih besar maknanya dan artinya daripada harta yag melimpah dengan kesungguhan orang akan mendapatkan apa yang dia inginkan sedangkan harta dapat habis dengan cepat dan tidak berbekas oleh karena itu bersungguh-sungguhlah dalam berbuat.
Kata mutiara ini pernah dibuktikan oleh pencipta lampu yang sekarang bisa kita nikmati yaitu Thomas alfa Edison, bagaimana dengan kesungguhannya kita dapat merasakan hasilnya sampai sekarang, semua itu dikerjakannya dengan kesabaran dan kesungguhan untuk mencapai sukses. Semoga anda senantiasa menggunakan peribahasa ini sebagai pegangan hidup.
Itulah kalimat terakhir yang dituliskan indra supaya setiap orang dapat mengaplikasikan pepatah itu dalam kehipupan sehari-hari. Sebagaimana yang sudah dituliskan indra dalam blognya itu, banyak sekali orang-orang yang berhasil mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, sebut saja Thomas alfa Edison yang menciptakan lampu. Menutur sejarah, dia telah melakukan 99 percobaan, namun selalu gagal. Barulah ketika percobaan ke 100 dia berhasil menemukan lampu yang sampai sekarang manfaat dari penemuannya dapat kita rasakan.
Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk keberhasilan mantra Manjadda Wajada:
1)      Kerja Keras
 Dalam sebuah artikel yang dimuat diblog pada hari selasa 3 Mei 2011 bertajuk “Inilah Hidup” menuliskan:
 Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa kerja keras adalah kunci utama untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hal apa pun. Sudah pasti kita memperoleh sesuatu itu bukanlah perkara yang gampang semudah membalik telapak tangan atau hanya dengan meminta, tapi sekali lagi harus dengan kerja keras.
 Arti kerja keras bukanlah dalam arti yang sebenarnya yakni bahwa kita harus benar-benar bekerja dengan keras, bukan seperti itu. Kerja keras itu menunjukkan semangat yang menyala dan kemauan untuk memberi batasan pada diri kita sendiri yang sebenarnya bisa kita langgar. Batasan ini yang menjadi tolak ukur bahwa apakah benar kita bisa keras pada diri kita sendiri atau tidak. Contohnya begini, saya ingin sukses dan kaya padahal saya masih sering muncul rasa malasnya. Kita tahu bahwa malas dan sukses itu bertolak belakang. Maka dengan itu, kita bikin batasan buat diri kita bahwa saya tidak akan malas lagi supaya saya bisa sukses. Hemat saya seperti itu.
 Jangan salah, melawan diri kita itu sendiri yang paling berat. Satu sisi kita ingin sekali memanjakan diri kita dengan bersantai sepanjang hari, tapi di satu sisi kita tahu bahwa jika saya bermalas-malasan maka tujuan saya akan semakin sulit tercapai. Tantangan seperti itu yang sangat berat kita lalui, dan tentu saja tidak heran bila banyak orang yang menyerah bila tantangan seperti ini yang mereka hadapi yakni menyangkut kemauan pribadi.
 Jadi, sekali lagi, kerja keras itu bukan berarti harus melakukan pekerjaan fisik yang menguras tenaga dan bikin rentan stress. Apa kata dunia, kalau untuk mendapatkan kesuksesan kita harus jadi pemikul barang dulu. Pemikul barang cuma seedar contoh bukan untuk mendiskreditkan pekerjaan tertentu. Terus, manfaat kerja keras seperti apa? Bukan hanya kesuksesan tetapi pengalaman hidup yang berharga. Bila kita bisa menempa diri kita untuk bisa lolos dalam melalui tantangan dan hambatan yang membuat kita tergoda untuk berhenti di tengah jalan, maka kita akan memiliki suatu keterikatan emosi yang lebih kuat akan makna sebuah semangat, percaya diri, kerja keras, dan kesuksesan.
 2)      Kesungguhan
Husain dalam tulisannya di artikel azam “kesungguhan dan harga syurga” menuliskan:
Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad. (Ust. Rahmat Abdullah rahimahullah)
Petikan paragraf di atas merupakan pembukaan artikel berjudul Membangun dan Membina Militansi Kita yang ditulis oleh Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah. Sebuah pembukaan singkat namun menyentak hati setiap orang yang membacanya. Bagaimana tidak, sementara detik terus berdetak, hari terus berlari, waktu berlalu menorehkan catatan-catatan sejarah yang takkan pernah berhenti hingga matahari terbit dari barat. Sejarah telah mencatat keberhasilan orang-orang besar yang telah mengisi waktunya dengan jiddiyah (kesungguhan) dan bukan bersantai-santai, berleha-leha dan bertopang dagu sambil berangan-angan.
Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan dalam perjalanan mencari hidayah pun diperlukan sebuah kesungguhan hati. Sejarah tak pernah lelah mencatat semua kisah kehidupan manusia. Semuanya terekam dengan jelas dan detil. Siapa membaca akan mendapatkan pelajaran. Siapa acuh tak acuh akan terjatuh pada lubang yang sama.
Dalam Al-Qur’an sendiri Allah menegaskan berkali-kali dalam banyak ayat-Nya,
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali Imran: 137)
Orang yang cerdas takkan mau terperosok pada lubang yang sama. Orang yang sadar akan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Bagaimanakah nasib akhir para pejuang tangguh yang dengan gigih tanpa menyerah mempertahankan prinsip-prinsipnya? Bagaimanakah nasib para pecundang yang mudah menyerah hanya dengan secuil rintangan?
Ya, semua itu sudah jelas jawabannya. Orang-orang yang bersungguh-sungguh akan memanen hasil kesungguhannya di kemudian hari. Demikian pula orang-orang yang bermalas-malasan akan menanggung sendiri akibat kemalasannya.
Jika kita membuka kembali catatan biografi orang-orang besar, akan kita temukan hal-hal luar biasa yang pernah mereka hadapi. Bagaimana seorang Imam Ahmad bin Hanbal harus rela kulitnya terkelupas karena cambukan para sipir di penjara tirani karena mempertahankan akidahnya untuk tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Sebelumnya, Yasir dan Sumayyah, sepasang suami istri yang telah melahirkan Ammar harus rela darahnya tertumpah, bahkan Sumayyah harus rela kemaluannya terhujam tombak, demi mendapatkan janji Nabi SAW:
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena tempat tinggal kalian adalah di surga.”
Demikian pula Bilal yang harus bertahan di atas siksaan yang tidak manusiawi yang ditimpakan atas dirinya. Bahkan Rasulullah SAW sendiri, sang pembawa risalah amanat dari Rabb semesta alam harus merelakan gigi beliau yang patah karena lemparan batu penduduk Thaif ketika beliau berhijrah.
Namun, berkat kegigihan mempertahankan prinsip, kini nama-nama mereka senantiasa harum dikenang dalam sejarah. Nama mereka telah tercatat dengan tinta emas dan akan terus dikenang hingga akhir masa.
Ternyata harga surga sangat mahal, kawan. Kita harus memiliki dana yang cukup untuk membelinya. Surga tidak diberikan secara gratis. Harus ada transaksi jual beli. Harus ada harga yang sesuai. Harus ada pengorbanan.
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah: 111)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran: 142)
 Marilah kita mulai dari sekarang untuk memperbaiki diri. Mari kita kembali berkaca. Sejauh manakah kesungguhan dan kerja keras kita selama ini. Seberapa besarkah pengorbanan yang telah kita sumbangkan untuk tegaknya agama ini. Seberapa banyakkah dana yang kita miliki untuk membeli surga nanti di akhirat. Tentu, setiap kita mengharapkan jannatul firdausil a’la, surga Firdaus yang tertinggi.
 Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjadi para pembela agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kita kesabaran untuk menapaki hidup ini dengan ridho-Nya. Semoga Allah mengumpulkan kita di akhirat nanti bersama hamba-hamba-Nya yang Dia cintai.
 Referensi:
Artikel Azam, karya Husain, judul “kesungguhan dan harga syurga”.
Blog Indra, Kata Mutiara, “Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dapatlah ia”.
Blog “Inilah Hidup”, Arti dan Manfaat Kerja Keras.
Artikel “Membangun dan membina militansi kita” oleh Ustd. Rahmat Abdullah