Disusun Oleh: Riyadi Suryana ( Santri Mandiri 2012 )
Kata Pengantar
Asslmu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah puji syukur saya haturkan kehadirat Alloh s.w.t yang telah memberikan berbagai limpahan rahmat, hidayah serta inayah. Dengan melaui berbagai hambatan tentunya dalam proses penyusunan makalah ini namun hal itu bukan menjadi sebuah hambatan namun berusaha untuk dijadikan pembelajaran. Maka tas segala perkenan-Nya sampailah saya pada sebuah kajian dimana terselaikannya makalah ini dengan judul “ Manfaat Zakat Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Kaum Dhuafa “.
Tidak banyak yang dapat saya berikan dalam makalah ini, namun sepucuk tulisan ini hendaknya memiliki nilai lebih, dimana mengandung karya anak bangsa yang terus berjuang menuntut ilmu, meskipun dalam keadaan yang tak berdaya. Penulis berusaha memaparkan dengan menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga memiliki harapan dapat dengan mudah untuk dipahamai bagi penulis khususnya dan para pembaca yang budiman.
Tulisan ini memuat tentang betapa beruntungnya Islam yang telah diberi sebuah system ekonomi, yang dilakukan melalui Zakat. Zakat itu sendiri dimasukan dalam rukun Islam yakni nomor tiga. Lebih dari itu zakat menempati fungsi yang sangat penting jika masyarakt ingin menempuh kesejahteraan ekonomi dalam Islam. Dan juga zakat tidak bisa terlepas dari masyarakatnya itu sendiri. Maka pemberdayaan masyarakat juga ikut menjadi penting dalam proses pengamalan dari pada zakat itu sendiri.
Selanjutnya kepada-Nya lah penulis kembali, semoga niatan baik ini mendapat ridho-Nya serata mampu bermanfaat bagi penulis, pembaca pada khususnya serta seluruh umat pada umumnya. Tidak lupa masukan dalam bentuk kritik dan saran sangat penulis butuhkan guna perbaikan dikemudian hari.
                                                                 Salam Hormat
                                                                 Riyadi Surya
                                                                    Penulis
BAB I. PENDAHULUAN
  1. A.    Latar Belakang Masalah
Zakat merupakan bagian dari harta yang wajib diberikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat kepada orang-orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu pula.[1] Zakat mampu dibedakan antara zakat mal maupun mudahnya orang memahami sebagai zakat harta dan juga zakat fitrah atau zakat perjiwa atau badan. Nah dalam hal ini baik itu zakat mal maupun zakat fitrah sama-sama pada akhirnya ialah senilai harta yang akan dikeluarkan untuk dikelola dan kemudian disalurkan kepada pihak yang berhak menerimanya sesuai dengan syara.
Artinya dalam kaitannya kali ini zakat berfungsi sebagai salah satu sumber pemasukan harta didalam Islam. Maka penting rasanya system zakat itu yang terorganisir oleh lembaga zakat guna pemerataan perekonomian didalam Islam ini untuk dikembangkan. Melihat semakin kacaunya perekonomian dunia saat ini, dan Indonesi pun turut mengalami dampaknya yang luar biasa, belum lagi harta yang sudah ada belum terkelola dengan baik, disamping itu ketepatan dalam mencapai sasaran juga sangat jauh dari sasaran hal ini terlihat jelas dengan masih banyaknya saudara-saudara kita yang kelaparan, sedangkan didepan gubuknya terbangun gedung-gedung yang sangat mewah dengan limpahan makanan yang tiada terkira jika harta yang ada hendak dibelikan pada sesuap nasi.
Dengan banyaknya jumlah penduduk di negara Indonesia, dan diantaranya ialah saudara-saudara kita dari kalangan dhuafa maka penting rasanya untuk dapat diberdayakan, sehingga menjadi kualitas unggulan bukan menjadi beban namun menjadi partner dalam menjalin tali persaudaraan didalam Islam dengan semangat tolong menolong sehingga terwujudnya masyarakat yang bermanfaat bagi sesamanya. Karena sebaik-baik umat ialah yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Dari hal itulah kiranya penulis tergugah untuk setidaknya mencari dan menggali solusi lain guna keluarvdari keterpurukan bangsa yang kini berlangsung. Maka dari itu benarlah saya rasa pemanfaatan zakat guna pemberdayaan semua kalangan masyarakat pada umunya dan kaum dhuafa pada khususnya.
  1. B.     Batasan & Rumusan Masalah
Ada beberapa hal yang penulis ingin fokuskan dalam pendalaman terkait zakat guna pemberdayaan masyarakat ini, yakni;
  1. Apa pentingnya zakat terhadap pengembangan ekonomi Islam
2. Apa pentingnya memberdayaakan kaum dhuafa agar turut aktif dalam menumbuhkan ekonomi dan mensejahterakan diri mereka keluarga serata saudara-saudaranya
3. Bagaimana memanfaatkan zakat guna memajukan bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan  serta social.
  1. C.    Tujuan & Kegunaan Penelitian
    1. Menggali manfaat zakat guna pemberdayaan masyarakat kurang mampu
    2. Mencari bentuk-bentuk pemberdayaan yang mampu untuk dilaksanakan oleh masyarakat kurang mampu
    3. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya berzakat
    4. Memberdayakan masyarakat melalui bentuk-bentuk yang telah dirumuskan
    5. Membantu masyarakat bukan hanya berupa financial namun proses bernejang pada berikutnya dengan memberikan wawasan dan pembekalan skil tertentu.
BAB II. Pentingnya Zakat Terhadap Pengembangan Ekonomi Islam
Zakat berasal dari kata zaka, yakni tumbuh dengan subur, makna lain dari zakat yang terkandung dalam Al-Qur’an ialah suci dari dosa[2]. Dalam kitab-kitab hukum Islam, zakat biasanya diartikan dengan suci, tumbuh, berkembang, serta berkah. Dan jika pengertian-pengertian ini dihubungkan dengan harta, maka harta-harta kita akan menjadi suci, tumbuh, berkembang, serta berkah yang pada akhirna akan membawa kita kepada ketenangan dan ketentraman, mewujudkan rasa pengertian menumbuhkan jiwa pengertian akan orang lain yang tinggi.
Zakat adalah bagian dari harta yang wajib diberikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat kepada orang-orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu pula.[3] Zakat juga diartikan salah satu rukun Islam yang merupakan kewajiban Agama yang dibebankan atas harta kekayaan seseorang menrut aturan tertentu.[4] Artinya zakat juga memiliki makna penyisihan harta dimana penyisihan tersebut mengandung maksud guna terbiasa membangusn nikap keikhlasan, saling menolong, tidak cinta dunia melalaikan akhirat, yang hal itu teratur dalam syara dan masuk menjadi rukun dalam ber-Islam.
Zakat itu sendiri terbagi dua, ada zakat fitrah dan ada zakat maal. Zakat fitrah ialah pengeluaran yang wajib dilakukan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari nafkah keluarga yang wajar pada malam dan hari raya Idul Fitri, adapun besarnya sejumlah 2,5 kg atau 3,5 liter beras, ataupun dengan sejumlah uang seharga 2,5 kg/3,5 liter beras yang biasa keluarga itu konsumsi.
Zakat Maal atau zakat harta ialah bagian dari harta kekayaan seeorang yang wajib dikeluarkan untuk golongan orang-orang tertentu setelah memenuhi syarat(nisab[5], haul[6], dan kadarnya[7]) wajibnya mengeluarkan zakat, artinya setelah dipunyai sejaumlah tertentu dan selama tertentu pula berdasarkan ketentuan yang telah diatur oleh syara. Harta yang dikeluarkan  berdasarkan aturan itu akan membersihkan semua harta yang seseorang atau lembaga itu miliki dan menjaga dari pada keberlanjutan atau pertumbuhan dari harta tersebut.
Maka disinilah ada hal menarik, secara rasio zakat mampu menampung harta, guna terealisasinya sebuah keaaan dimana harta milik Alloh s.w.t itu tersebar dan tersalurkannya secara merata dan diterima maupun dipahami oleh akal manusia. Dan secara keimanan, zakat menjaga pertumbuhan harta yang kita miliki, banyak  ayat yang menjelaskan tentang konsep zakat di dalam Islam diantaranya; surat ke- 2: 43, 2: 177, 2: 277, 5: 55, 19: 13, 22: 41, 23: 4, 30: 39, 33: 33, 73: 20, 98: 5.
Prinsip-Prinsip
  1. Prinsip keyakinan keagamaan, menyatakan bahwa orang yang membayar zakatyakin bahwa pembayaran tersebut merupakan salah satu manisfestasi keyakinan agamanya.
  2. Prinsip pemerataan dan keadilan, cukup jelas menggambarka tujuan zakat, yaitu membagi kekayaan yang diberikan Alloh s.w.t lebih merata dan adil kepada manusia.
  3. Prinsip produktifitas, menekankan bahwa zakat memang harus dibayar karena milik tertentu telah menghasilkan produk tertentu setelah lewat jangka waktu tertentu.
  4. Prinsip nalar, masuk akal kalau zakat harta yang menghasilkan itu dikeluarkan.
  5. Prinsip kebebasan,  artinya zakat hanya dibayar oleh orang yang bebas dan sehat jasmani serta rohaninya, tidak dipungut dari orang yang sedang dihukum atau orang yang menderita sakit jiwa.
  6. Prinsip etika dan kewajaran menyatakan bahwa zakat tidak akan diminta secara semena-mena tanpa memperhatikan akibat yang ditimbulkannya.[8]
.
BAB III. Pemberdayaan Masyarakat
Melihat banyaknya secara kuantitas masyarakat Indonesia khususnya umat Islam, maka perlu adanya keseimbangan antara kuantitas dengan kualitas. Bukan hanya dilevel masyarakat menengah kebawah namun semua elemen masyarakat, karena jarang manusia yang memiiki kehebatan multy level, missal dalam bidang pendidikan hebat, kewirausahaan hebat, dan ilmu agama pun hebat, namun masing-masing memiliki kompetensi dan kemampuan yang berbeda-beda, dan hal itulah yang menjadi sebab mengapa pemberdayaan itu penting untuk dilakukan. Namun barangkali memang dalam tulisan ini lebih terfokus pada pemberdayaan kaum dhuafa.
Pemberdayaan bagi masyarakat memang sudah menjadi hal yang pantas untuk disegerakan pelaksanaanya, sebagai contoh kejatuhan industry kecil di pedesaan , biasanya disebabkan oleh munculnya persaingan di antara mereka sendiri yang cenderung tidak sehat. Terkait factor-faktor yang melatarbelakangi mnculnya permasalahan seperti ini biasanya berasal dari dinamika internal maupun eksternal, yang didalamya meliputi permasalahan social, ekonomi, poltik, budaya dan Agama.[9]
Berkaitan dengan adanya hal tersebut, maka penting rasanya institusi-institusi keagamaan cepat tanggap bersama-sama dalam mencari solusi. Maka pemberian kesempatan, pembekalan, sekaligus pemberdayaan itu perlu kiranya untuk dilakukan. Adapun hal-hal semacam itu bisa dilakukan diantaranya dengan;
  1. a.      Pelatihan Usaha
Melalui pelatihan usaha ini, setiap peserta diberikan pemahaman terhadap konsep-konsep kewirausahaan, dengan segala bentuk-bentuk dan seluk-beluk permasalahan sehingga mencapai tujuan yang diinginkan. Adapun tujuan dari pelatihan ini ialah untuk memberikan wawasan yang lebih menyeluruh dan actual, sehingga dapat menumbuhkan motivasi terhadap peserta , disamping diharapkan peserta memiliki pengetahuan teoritis tentang penguasaan teknik kewirausahaan.[10]
Telah banyak hasil yang memang teah diperoleh dari usaha-usaha seperti ini, yang biasa masyarakat berwirausaha dengan biasa-biasa saja tanpa mengusahakan lebih menggunakan analisa-analisa yang menumbuhkan kecerdasan dan ketepatan dalam berwirausaha tentunya dengan adanya program pelatihan usaha ini masyarakat bukan hanya akan mendapat skil berwirausaha namun keterampilan lebih dari mulai perencanaan, produksi, pemasaran sampai evaluasi menuju perbaiakan yang lebih baik.
  1. b.      Penyusunan Proposal
Untuk memulai kegiatan usaha, hal yang terkadang sering kali terlupakan ialah penyusunan proposal yang digunakan sebagai acuan dan target perkembangan usaha. Melalui usaha ini pula memungkinkan untuk membuka jalinan kerja sama dengan berbagai lembaga perekonomian.[11]
Proposal sebaiknya disusun secara realistis dengan mencermati pengalaman empiris secara kongkrit dan comfortable, bukan hanya sekadar logis dan sistematis saja. Jika sudah dihadapkan pada sebuah persaingan yang tinggi hal-hal sekacil apa saja akan banyak mempengaruhi terhadap hasil yang akan didapat, apakah proposal itu diteria atau tidak.
Bukanlah sebuah hal yang mempersulit namun hal ini tentunya hasil pengembangan dari usaha-usaha lain yang telah dilakukan, seperti adanya kajian teoritis, nah maka disinilah salah satunya tempat dalam menerapkan ilmu yang diperoleh. Karena banyak proposal itu bagus menurut perhitungan logika dan matematika, namun karena tidak memuat secara akurat mengenai keadaan asli di lapangan, maka ketika proposal itu dilaksanakan, banyak sekali terjadi perbedaan da penyimpangan, sehingga berujung pada kerugian yang dialami.
  1. c.       Permodalan
Permodalan dalam bentuk uang, merupakan salah satu factor penting dalam dunia usaha, namun buakan berarti yang terpenting. Untuk mendapatkan dukungan keuangan yang cukup stabil, perlu mengadakan hubungan kerjasama yang baik dengan lembaga keuangan.
Penambahan modal dari lembaga keuangan sebaiknya digunakan bukan unuk modal awal, namun untuk modal pengembangan, setelah usaha itu sudah dirintis dan menunjukan perkembangannya yang cukup baik. Namun perlu digaris bawahi, bahwa sekali-kali jangan terjebak dengan yang namanya riba, karena sudah terjelaskan dari awal bahwa modal, atau usaha kita itu mesti suci, halal, mengembang serta barokah. Bagaimana usaha itu akan barokah jika sudah diwarnai ataupun diawali oleh hal-hal yang kotor seperti riba. Carilah sebuah usaha penambahan modal yang tidak bertentangan dengan Islam, seperti bagi hasil, kerjasama, modal bersama, membentuk kelompok dll.
  1. d.      Pendampingan
Pada tahap ini, dimana ketika usaha itu dijalankan, maka calon wirausaha ini akan didampingi oleh pendamping yang professional, mengerti benar, faham dan mampu menyampaikan ilmunya denagan baik. Pendamping akan dituntut lebih ekstra karena sasaran utama yang dituju khususnya ialah orang-oarang yang memiliki kemampuan minim didalam berusaha, bahkan terkadang tingkat pedidikannya bisa tergolong sangata dasar sekali
Pendampingan dilakukan dengan waktu yang rutin, intensif, dan berkelanjutan, bukan hanya sampai pada pembekalan materi, praktek, namun sampai denagn para peserta pendampingan itu mampu mengamalkan ilmu yang telah diterimanya. Maka peran pendamping disini mengarahkan sekaligus membimbing para peserta program pendampingan.
Biasanya program ini menyatu denagn program yang lainnya, semisal dengan program pembekalan skil dan materi. Hal ini akan lebih memudahkan peserta dalam mengapikasikan ilmunya, dan juga berkolaborasi dengan ilmu yang sedang mereka pelajari itu, program sasaran pelatihannya kemana, akan memproduksi apa, bagaimana nah pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan lebih mengena jika ada penyatuan kelompok materi, meskipun waktu yang dilakukannya berbeda, hal-hal seperti itu bisa diatur sesuai dengan kebutuhan.
Untuk lebih memudahkan, menghemat dan guna kebaikan, sebaiknya peserta dikelompok-kelompokan, tidak bersifat perseoarangn. Tidak pula bersifat masal, namun cukup missal perkelompok dengan 7 – 10 orang. Tuajuannya agar terjadinya pendampingan yang efektif, dan juga adanya saling tolong menolong antar sesame peserta pendampingan. Bukan hanya dala program pendampingan namun dalam program-program yang lainnya pula.
BAB IV. Manfaat Zakat  Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Kurang Mampu
Sebagai mana yang telah dijelaskan di atas, secara tidak langsung hal-hal yang telah disampaikan barusan juga merupakan manfaat dari zakat itu sendiri. Intsitusi-Institusi Agama sungguh tidak bisa dipungkiri akan membutuhkan dana dalam proses pelaksanaan program-program tadi. Melalui zakat inilah dana ditampung, yang kemudian beberapa bagiannya dikelola dan digunakan untuk proses pemberdayaan masyarakat khususnya kaum dhuafa.
  1. A.    Bidang Pendidikan
Dalam bidang pendidikan manfaat zakat yang telah dipadukan dengan pemberdayaanmasyarakat, hal semacam ini bisa diterapkan melalui pendidikan-pendidikan kewirausahaan bagi para mahasiswa yang kurang mampu. Secara tidak langsung dengan semacam itu diharapkan mahasiswa memiliki skil tambahan guna mencukupi kebutuhannya, khususnya yang berkenaan dengan kebutuhan perkualiahan. Dengan hal tersebut dana zakat bukan hanya sampai proses pemberian dana saja namun secara tidak langsung mampu membantu secara kesinambungan dengan kecakapan berwirausaha yang telah diberikan.
Hal lain melihat dikalangan para pelajar biasanya terdapat koperasi-koperasi siswa maupun mahasiswa, maka dana-dana yang telah didapat dari zakat mampu membantu proses pengambangan koperasi itu sendiri. Justeru denagn hal seperti ini dana yang keluar bisa secara tidak langsung kembali, denagn system pihak-pihak yang telah terlibat denagn lembaga penyaluran zakat ini, nantinya akan memberikan zakat penghasilan, untuk kemudian zakat itu dikelola dan dikembangkan berikutnya akan digilirkan pada yang lain.
Yang berikutnya ialah baru melalui program-program beasiswa-beasiswa unggulan tepat sasaran,baik itu untuk tingkat SD/MI, SMP/Tsanawiyah, maupun SMA,SMK,MA, Serta Mahasiswa, Yang disertai pembekalan-pembekalan khusus, seperti pemberian kesemangatan dalam hidup, wawasan yang luas, penyemangat dan yang lainnya. Tentunya zakat akan sangat bermanfaat sekali, sekaligus melancarkan proses pencerdasan anak bangsa.
Nah secara umum dalam bidang pendidikan haruslah jangan terlupakan, entah bagaimanapun bentuk programnya, namun mesti ada nilai edukasinya. Oleh karena itu sebenarnya adalah bukan semata-mata membantu dengan melepas namun membantu degan menyisakan pancing, dimana kail pancing itu sewaktu-waktu akan mampu ditarik kembali. Artinya dibalik program-program dibaidang pendidikan tadi, sebenarnya usaha untuk membentuk semangat dan wawasan untuk berusaha itu lahir. Wawasan itu dibentuk bukan hanya berdasar pemberian materi, pembekalan fisik, melainkan dibentuk melalui penggalian potensi dan wawasan batin yang dilakukan secara sistematis,[12] sehingga dapat berfungsi untuk melihat peluang-peluang yang dapat mereka isi, jika usaha maka dalam bentuk usaha, jika skil lain maka dalam bentuk skil, olahraga dan lain sebagainya.
Disamping itu, dengan masih banyaknya saudara-saudara kita yang masih memiliki pendidikan minim, melalui dana zakat ini bisa dibentuk kelompok belajar dari mulai pendampingan dari tingkat TK sampai SD, serta masyarakt umum khususnya kalangan kurang mampu yang biasanya masih jauh dari pendidikan baik itu agama seperti mengaji dan juka pembelajaran membaca dan menulis. Dengan demikian melalui upaya-upaya seperti ini dharapkan dana zakat bisa membantu mengurangi keawaman dalam beragama dan buta huruf.
  1. B.     Bidang Ekonomi
Ekonomi merupakan bidang yang sangat penting dalam proses khidupan manusia. Ekonomi menempati pengaruh yang luar biasa terhadap pola hidup seseorang. Banyak masyarakat yang sangat terkuras waktunya, sehingga melalaikan urusan akhirat(agama) dikarenkan dikarenakan sibuk mencari nafkah, meskipun hasil yang didapat senantiasa tidak menemukan titik kecukupan. Disamping itu, ekonomi sebagai kebutuhan primer juga turut mempengaruhi kehusyuan manusia dalam beribadah. Bagaimana seseorang akan khusyuk ibadahnya, sedangkan keluarganya kelaparan.
Zakat sebagai harta yang dikeluarkan oleh orang musli  dan akan kembali pada orang muslim, menyimpan bagian-bagian orang muslim yang membutuhkan tadi. Kedepan zakat sudah bukanlah menjadi harta yang didistribusikan begitu saja, namun menaruh gagasan untuk ada yang dikelola dan kemudian dikembangkan.
Dalam sebuah teori masyarakat yang sudah tidak mampu lagi atau wajib ditolong yang dijelaska oleh syara merupakan tanggungan Negara, namun bukan bermaksud menyalahkan siapa-siapa, jika memang itu tanggungan Negara yang harus dipenuhi jangankan untuk menanggung kalangan masyarakat yang seperti dijelaskan tadi. Untuk mengurusi hal-hal yang bersifat sederhana saja, untuk kebutuhan semua masyarakat, seperti fasilitas-fasilitas penunjang sarana umum, seperti pendidikan, kesehatan itu masih jauh dari harapan.
Zakat sebagai harta bersama mampu dimaksimalkan guna membantu permasalahan-permasalahan perekonomian disekitar kita. Zakat mampu dimaksimalkan melalui pembentukan badan-badan perekonomian seperti pembentukan lembaga-lembaga pelatihan yang diselenggarakan secara cuma-cuma. Misal pelatihan menjahit untuk kalangan masyarakat kurang mampu, Mengemudi, Las listrik maupun karbit, pelatihan produksi makanan ringan sehingga nantinya diharapkan masyarakt kurang mampu pun akan mampu berwiraswasta secara mandiri maupun berkelompok, tanpa harus menggantungka hidupnya dari rasa belas kasih pihak lain, baik itu personal maupun dari lembaga-lembaga yang mengurusi bagian penjaminan hidup.
  1. C.    Bidang Kesehatan
Seperti yang telah disampaikan dia atas, kesehatan merupakan hal yang sangat penting. Hampir dalam setiap muqodimah, disampaikan bahwa nikmat yang sangat berharga adalah nikmat diberikannya kesehatan. Dengan begitu pentingnya kesehatan ini maka negara wajib untuk mengadakan pelayanan kesehatan dengan sejangkau mukin oleh semua kalangan masyarakat. Pelayanan kesehatan memang sudah mampu diselenggarakan oleh pemerintah, namun penyelenggaraan yang sesungguhnya ialah bukan hanya terletak pada proses penyediaan atau penyelenggaraannya saja, namun mengena pada semua kalangan masyarakat. Nah jika biaya kesehatan itu mahal, maka bagi kalangan yang kurang mampu jangankan untuk berobat dengan biaya yang begitu tinngi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah susah. Jadi banyak dari kalangan masyarakat kurang mampu yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan sebagai mestinya. Dengan demikian sesungguhnya penyelenggaraan kesehatan itu belum dikatakan berhasil bahkan terancam gagal.
Melihat keadaan seperti ini maka peran lembaga keagamaan yang memiliki kaitan dengan mengusahakan serta mengembangkan zakat sangatlah berpotensi sekali guna membantu proses penyelenggaraan kesehatan. Dan secara tidak langsung menjadi wakil negara dalam proses pemerataan pelayanan kesehatan. Hal semacam ini bisa diupayakan melalui pengelolaan zakat yang disisihkan untuk membangun pusat layanan kesehatan secara Cuma-Cuma bagi kalangan masyarakat kurang mampu, atau dalam bentuk lain misal pengobatan keliling ke kampong-kampung, pengecekan kesehatan, pemberian obat gratis, dan juga layanan konsultasi kesehatan gratis.
Hal-hal semacam ini sungguh sudah dilakukan, maka nyatalah bahwa manfaat zakat terhadap bidang kesehatan sangatlah bermanfaat sekali. Bukan hanya bermanfaat bagi penerima, namun kepada dnatur pun akan nyata merasakan –benar tepat sasaran. Disis lain hal seperti itu akan menambah rasa kesemangatan para donator untuk terus berzakat, bagi yang lain juga akan tergugah untuk mengeluarkan zakat, diakarenakan mereka nyata langsung melihat pengguanaan dana yang mereka keluarkan.
  1. D.    Bidang Sosial
Menurut pemikiran Al-Mawardi bahwa Negara harus menyediakan infrastruktur yang diperlukan bagi perkembangan social, baik itu dalam hal ekonomi maupun kesejahteraan umum, menurutnya, “Jika hidup di kota menjadi tidak mungkin karena tidak berfungsinya fasilitas sumber air minun atau rusaknya tembok kota, maka negara bertannggung jawab untuk memperbaikinya dan, jika tidak memiliki dana, negara harus menemukan jalan untuk memperolehnya”(Al-Mawardi, Op. Cit., Hlm. 245).
Al-Mawardi menegaskan bahwa negara wajib mengatur dan membiayai pembelanjaan yang dibutuhkan oleh layanan public karena setiap individu tidak mungkin membiayai jenis layanan semacam itu. Dengan demikian, layanan public merupakan kewajiban social(fardh kifayah) dan harus bersandar pada kepentingan umum.[13] Artinya hal ini sudah merupakan sebuah keharusan jika ingin terwujud pranata social yang selaras, serasi dan seimbang.
Kaitannya dengan zakat, maka zakat memiliki kontribusi dalam perwujudan hal seperti itu. Proses perwujudan itu bisa dilakuakn dengan memanfaatkan hasil pengelolaan zakat. Dengan demikian zakat akan lebih bervariasi dalam upaya pendistribusian, pemerataan ekonomi aka nata dirasakan oleh semua pihak.
Melalui lembaga-lembaga yang khusus berkonsentrasi menangani zakat, bisa dimasukan program-program social[14], seperti pemberdayaan masyarakat menemhah kebawah, pembanguna infrastruktur umum yang berkerjasama dengan masyarakat dalam pelaksanannya, pembangunan yayasan-yayasan social dalam menangani masyarakat kurang mampu.
Dengan upaya-upaya seperti ini diharapkan pendistribusian zakat akan lebih merata. Disamping itu, lembaga-lemabag pengelola zakat akan leih dekat dengan masyarakat begitu pula sebaliknya, sehinga terjalin hubungan bilateral yang baik. Bahkan kedepanya proses penjaringan donaturpun akan semai meluas. Insya Alloh dengan ha-hal semacam ini, system pemberdayaan masyarakat berbasis zakat ini akan menjadi solusi dan nyata manfaatnya terhadap masyarakat.
B AB V Penutup
  1. Kesimpulan
Zakat sebagai lembaga Islam mengandung  hikmah (makna yang dalam, manfaat) yang bersifat rohaniah serta mengandung makna yang jauh dari tingkat kesadaran akal budi manusia. Zakat buakn hanya berarti memenuhi sikap akan kewajiban dalam agama, lebih dari itu zakat menjami terciptanya kesejahteraan masyarakat secara luas, bukan hanya di dunia namun sampai ukhrowi.
Zakat mendukung terwujudnya system ekonomi di dalam Islam, zakat tidak terhenti pada pemanfaatan dalam waktu yang singkat, namun zakat mengandung arti manifestasi baik fanifestasi dunia maupun akhirat. Zakat membersihakan, mensucikan serta menumbuh kembangkan harta yang dimiliki.
Zakat mendukung pemberdayaan masyarakat, baik dari kalangan muda sampai yang tua. Secara tidak langsung zakat tidak hanya mengena pada kalangan bawah namun merata melalui pembangunan saran-saran umum.
Pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi kalangan yang sangat membutuhkan pertolongan sangatlah diperlukan, guan menciptakan pemikiran yang tidak mengharap rasa belas kasih orang lain maupun lembaga yang menangani bidang kesejahteraan kaum kurang mampu.
Pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan melalui bentuk-bentuk yang bervariasi, tergantung bakat, minat, serta ketepatan untuk diembangkan disuatu wilayah. Misal pembekalan skil menjahit, sopir, Las, bengkel, produksi makanan ringan dll. Hal itu bisa diwujudkan melalui bantuan pendanaan dari pengelolaan zakat yang telah terkumpul. Luar biasa.
  1. Saran
Penulis mengamati masih banyaknya sebenarnya hikmah dibalik hal-hal yang tersurat dalam ajaran Islam, salah satunya zakat ini. Namun kedepan barangkali hal-hal semacam ini akan terus dikembangkan. Bukan hanya zakat, melainkan dari as[ek ketauhidan( syahadatain ), pengamalan sholat, zakat, puasa dan ajaran-ajaran Islam yang lainnya. Yang jelas syariat Islam itu sungguh hikmah yang sangat agung, dan Al-Qur’an merupakan mukjizat yang sangat agung sampai akhir Alloh yang memutuskan.
Penulis berpesan, semoga dengan disusunnya karya tulis yang jauh dari susunan akademik yang sebenarnya ini, mampu dilanjutkan dan dikembangkan. Kedepan masih ada banyak hal, banyak pr bersama yang harus segera kita selesaikan, kita cari solusinya bersama. Dari mulai saat ini, dari yang terkecil, dan dari  diri sendiri.
Akhirnya pada Alloh s.w.t lah penulis kembalikan. Semoga tulisan yang sangat sederhana ini bisa bermanfaat dan menjadi pendukung terwujudnya kesejahteraan umum yang telah lama didambakan oleh bangasa ini, khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca yang budiman dan semua masyarakat. Amiin ya Alloh ya Robbal’alamin.
Dalam penulisan ini tentulah masih banyak  sekali kekurangan, baik dari isi materi maupun dari metode kepenulisan, akhirnya penulis beristigfar”Astaghfirullohal’adzim” dan memohon ampun pada-Nya. Kritik dan saran pun sangat kami harapkan guna perbaikan tulisan ini kedepan.
Semangattt !!!
Daftar Pustaka
Daud, Ali, Mohammad & Daud, Habibah,  Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1995
Asyarie, Musa, Islam  Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Umat, Klaten: Lesfi, 1997
Ma’aruf, Ade & heri, zulfan, Muhammadiyah dan pemberdayaan Rakyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997
Azwar, Karim, Adiwarman, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004
Daud, Ali, Mohammad, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, Jakarta: UI Press, 1998

[1] Mohammad Daud Ali. Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf. UI Press. Jakarta . 1998 Hal. 26
[2] M.Moh. Ali, 1977: 311
[3] Ibid Hal. 26
[4] Prof. H. Mohammad Daud Ali dan Hj. Habibah Daud S.H Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia Pt. Raja Grafindo. Jakarta1995 Hal.215  
[5] Jumlah minimum harta kekayaan yang wajib dikeluarkan hartanya
[6] Jangka waktu yang ditentukan bila seseorang wajib mengeluarkan zakat hartanya
[7] Ukuran besarnya zakat yang harys dikeluarkan
[8] Ibid, hlm.242
[9] Dr. Musa Asyarie. Islam  Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Umat. Lesfi. 1997 klaten, Hal. 140
[10] Ibid, Hal 141
[11] Ibid, Hal. 142
[12] Dr. Musa Asyarie. Islam  Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Umat. Lesfi. 1997 klaten, Hal. 152
[13] Ir. H. Adiwarman Azwar Karim.Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. RajaGrafindo Persada. Jakarta 2004,. Hlm.303-304
[14] Ade Ma’aruf dan Zulfan Heri, Muhammadiyah dan Pemberdayaan Rakyat, hlm 41,42