Sebuah ungkapan menyatakan bahwa “suatu barang tak bernilai akan berubah menjadi hal yang sangat bernilai jika berada di tangan-tangan yang berdaya nilai”. Ungkapan ini mengisyaratkan pada kita bahwa semua barang berharga berasal dari sesuatu yang kurang bernilai guna bahkan dianggap tak berguna sama sekali.
Terdapat 3 istilah bagi barang-barang produksi, yakni bahan baku, bahan setengah jadi, barang produksi, dan sisa produksi (limbah). Bahan baku merupakan bahan dasar yang belum menampakkan utilitas (segi kegunaan) dari bahan tersebut. Bahan setengah jadi merupakan bahan masih membutuhkan pengolahan lebih lanjut guna mendapatkan nilai guna yang diharapkan. Pada tahap setengah jadi, suatu barang sudah mulai menampakkan utilitasnya namun belum sempurna. Setelah mengalami pengolahan, bahan setengah jadi akan menghasilkan barang jadi. Barang jadi inilah yang disebut sebagai hasil produksi. Dari proses produksi barang, tidak menutup kemungkinan suatu produsen akan menghasilkan sisa-sisa produksi (limbah).
Sebagai contoh, kapas merupakan bahan mentah yang nantinya diolah menjadi bahan setengah jadi (benang kemudian diolah lagi menjadi kain) hingga menjadi suatu barang yang berguna (pakaian). Dari serangkaian proses pembuatan pakaian tersebut, terdapat limbah (sisa) yang dalam hal ini disebut “perca”.
Perca, suatu bahan yang dianggap sebagai “sampah” oleh sebagian orang. Bagaimana tidak? Setumpuk kain yang hanya menjadi pajangan akan terkesan menimbulkan pemandangan yang tak sedap bagi semua orang. Namun, ketika sisa-sisa kain terebut sudah mendapat sentuhan kreasi dari tangan-tangan yang mahir, maka kenyataannya akan lain. Perca dapat dikonversikan menjadi prestise thing. Ketika asumsi tersebut dilontarkan, maka muncullah beberapa pertanyaan. Diantaranya, bagaimana cara memanfaatkan kain perca supaya menjadi barang yang berguna? Atau mungkin produk apa sajakah yang mampu dihasilkan dari pengolahan kain perca? Maka dari itu, dalam hal ini penulis akan mencoba menjawab rumusan permasalahan di muka.
Dewasa ini, kerajinan dari kain perca sudah menjamur di mana-mana. Mulai dari sapu tangan, kotak pensil, keset, hingga bermacam-macam baju perca yang dimodifikasi menurut style modern. Harganya pun cukup menggiurkan, mulai dari harga lima ribu hingga lima puluhan ribu.  Beberapa produk dari perca tersebut merupakan salah satu bukti bahwa limbah dapat menjadi barang bernilai jual tinggi jika diolah dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.
The Liang Gie mengatakan bahwa untuk mencapai suatu kesuksesan, seseorang perlu memiliki empat hal, yakni: pendorongan diri (self motivation), pengorganisasian diri (self organization), pengendalian diri (self control), dan pengembangan diri (self-development).[1] Pengembangan diri menjadi satu faktor utama yang mendukung para kreator untuk menaiki tangga kesuksesan mereka.
Pengembangan diri memang terutama ditujukan pada segi intelektual, daya pikir, dan kecerdasan seseorang. Tetapi pengembangan diri itu juga dapat diperluas menjadi peningkatan diri dengan melibatkan kemauan, perasaan, kesusilaan, kesehatan, dan sumber daya pribadi lainnya yang ditingkatkan tarafnya.[2] Tidak mudah untuk menumbuhkan kesadaran serta kemauan bagi semua orang untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Namun, hal itu akan lain jika ada motivator serta koordinator yang mampu meng-handle pengembangan diri tersebut. Salah satu indikasi pengembangan diri adalah mampu memunculkan ide-ide kreatif dari  suatu realitas sederhana.
Sanggrahan, suatu daerah yang terletak di Bantul, tercatat memiliki beragam potensi daerah yang unik. Jika daerah lain memiliki sumber daya alam sebagai ciri khas, maka daerah ini memiliki strategi pengelolaan sumber daya alam yang menarik. Terbukti dengan beberapa profesi yang ditekuni oleh ibu-ibu anggota Misykat, diantaranya : produsen nata de’ coco, pengrajin sablon, produsen jamu, kue kering, emping, pecel, dan masih banyak lagi.
Di desa Sanggrahan, kerajinan tangan cukup mendapat perhatian khusus dari masyarakat. Terlebih dalam acara-acara pernikahan. Souvenir (cendera mata) yang dibagikan kepada tamu undangan mayoritas berasal dari kriya  masyarakat. Melihat sebagian potensi masyarakat yang ada, yakni kain-kain perca sablon di kediaman Bu Alif, Misykat Asmaul Husna mencoba untuk memperkenalkan kerajinan-kerajinan perca.
Berawal dari ide Bu Alif (produsen nata de’ coco sekaligus pengrajin sablon), keberadaan perca kini mulai diperhatikan. Pada pendampingan Misykat ke-3, para anggota sudah berencana untuk membuat rancangan karya perca. Sisa-sisa jahitan kaos, celana, dan sablon yang berasal dari kain katun, nilon, dan tisue akan dikreasikan menjadi karya daur ulang kreasi-ekonomis.
Pendayagunaan perca yang akan diterapkan oleh anggota Misykat  Sanggrahan adalah menggunakan teknik tempel dan jahit (aplicate and saw). Kerajinan perca yang akan dihasilkan di sini cukup berbeda dengan kerajinan-kerajinan perca lainnya. Produk yang akan kami olah memiliki beberapa ciri khas, pertama pada variasi bahan dasar. Bahan dasar yang digunakan adalah dari berbagai jenis kain yang masing-masing tekstur dan seratnya berbeda. Memang tidak mudah untuk menggabungkan dua bahan berbeda jenis, namun kali ini kami akan mencoba mengaplikasikannya dengan teknik yang baru pula. Kedua, teknik pengolahan yang digunakan adalah tempel dan jahit. Jika kerajinan perca pada umumnya hanya menggunakan salah satunya, ditempel atau dijahit saja, maka kami mengkombinasikan keduanya dengan pertimbangan untuk memperkuat daya rekat kain yang berbeda jenis.


[1] The Liang Gie, Efisiensi Untuk Meraih Sukses, (Yogyakarta : Panduan, 2003). Hal.65.
[2] Ibid. 67.