Dakwah bukanlah sesuatu yang asing. Ia ditemui bukan hanya di masjid atau di majelis taklim, tapi juga di sekolah, kantor, pasar dan hotel. Pelakunya juga bukan ulama atauustadz tetapi paraa pejabat. Pengusaha artis, seniman dan lainnya. Mereka naik ke mimbar atau menulis di media untuik mengajak maanusiaa pada kebaikan. Berdakwah butuh kesadaran mendalam di hati setiap muslim. Luasnya jangkauan yang harus disentuh dakwah membuatnya tidak mungkin diemban segelintir pihak. Perlu banyak orang untuk menuangkan gagasan pembaharuan di tengah kemujudunan hidup. Apalagi jika dikaitkan dengan nuansa religious dan tugas berat dakwah, makna didalamnya mestilah mampu memotivasi dan menguatkan seorang muslim untuk giat berdakwah. Karenaa itu dakwah yang harus berangkat dari kesadaran beragama mendalam, jauh dari keinginan mencari sensasi apalagi sekedar ikut-ikutan. Ringkasnya, tugas dakwah harus dilandasi motivasi-motivasi ukhrawi yang kuat. Inilah yang melatarbelakangi kita berdakwah.
1. Dakwah merupakan jalan hidup para rosul
Allah SWT berfiraman,”katakanlah:inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajaak (kamu) kepada Allah dengan yakin…” (QS.Yusuf[12]:108). Berdasarkan ayat mulia ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran berharga, bahwa dakwah ilallah(mengajak manusia kepada Allah) merupakan jalan orang yang mengikuti Rasulullah SAW.
2. Meninggalkan dakwah akan membawa petaka
Allah SWt mengungkapakan tentang kedurhakaan orang-orang kafir bani israil, ‘orang –orang kafir dan bani israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan isa putra maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat.sungguh sangat buruk apaa yang mereka perbuat.’(QS al-Ma’idah [5]:78-79). Ayat ini menjelaskan bahwa tindakan mereka itu (mendi8amkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara sepele. “seandainya didalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb  mereka niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar. Tentu mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaannNya…” 1
Diantara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin merajalela. Syaikh as Sa’di memaparkan akibat buruk ini. “sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran ) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancing dalam memeperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniyah dan duniawiyah yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimilki oleh ahlul khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan dimana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu mernah mereka ingkari.”2
3. Orang yang berdakwah berhak mendapatkan pertolongan Allah
Allah berfirman, “…Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh allah Mahakuat, Mahaperkasa. (yaitu) orang-orang yang jika kami beri kedudukan dibumi, mereka melaksanakan sholat, menunaikan zakat dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan kepada Allah lah kembali segala urusan,”(QS al hajj[22]: 40-41). Ayat yang mulia ini juga menunjukkan barang siapa yang mengaku membela agama Allah namun tidak memiliki ciri seperyi yang disebutkan (mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar) maka dia adalah pendusta.3
4. Dakwah, alasan bagi hamba dihadapan Rabbnya
Allah berfirman, “dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata, “mengapa kalian tetapa menasehati kaum yang akan dibinasakan atau diazab allah dengan azab yang amat keras?’ mereka menjawab, ‘agar kami mempunyai alasan (lepas tanggungjawab) kepada Tuhan-mu dan agar mereka bertakwa.’ ” (QS Al a’raff[7]: 164) inilah maksut paling utama dari pengingkaran  terhadap kemungkaran yaitu agar menjadi alasan untuk menyelamatkan diri (di hadapan Allah) serta demi menegakkan hujjah kepada orang yang diperintah dan dilarang dengan harapan semoga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadanya sehingga dengan begitu dia akan mau melaksanakan tuntunan perintah atau larangan itu3.. Allah berfirman, ‘Rosul- rosul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan member peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantu allah setelah rasul-rasul diutus. Allah maha perkasa lagi mahabijaksan,” (Qs An-nisaa’[4]: 165)
Dari Ibnu abbas ra, raulullah saw berkhutbah dihadapan para sahabat pada hari raya kurban. Beliau berkata, “wahai umat manusia, hari apakah ini?” Mereka menjawab, “hari yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri yang disucikan.” Lalu beliau berkata, sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah disucikan, tak boleh dirampas dari kalian, sebagaimana sucinya hari ini, di negeri (yang suci) ini, di bulan (yang suci) ini. “beliau mengucapkan berulang-ulang kemudian mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, “Ya allah, bukankah aku sudah menyampaikannya? Ya allah, bukankah aku telah menyampaikannya?”4
Al hafizh ibnu hajar ra menerangkan, “sesungguhnya beliau mengucapkan perkataan semacam itu (Ya Allah bukankah aku sudah menyampaikannya) disebabkan kewajiban yang dibebankan kepada beliau adalah sekedar menyampaikan. Maka beliau pun mempersaksikan kepada Allah SWT bahwa dirinya telah menunaikan kewajiban yang Allah bebankan untuk beliau kerjakan.”5
Begitulah, karena kesadaran berdakwah dilakukan bukan sekedar untuk menentang segala yang ada dalam masyarakat, melainkan untuk memperbaikinya. Kita tidak bertugas sebagai hakim yang menilai, menghakimi, dan menghukum masyarakat; melainkan sebagai tabib yang mengobati. Kita haruslah bersikap seperti pohon. Ketika manusia melempari batu , kita membalasnya dengan buah kebaikan. Wallahu a’lam.
Referensi :
1 dan 2 Taisir al karim Ar-Rahman, hal 241
3 Taisir al karim Ar-Rahman, hal 540
4 HR bukhari dalam kitab al-Hajj, bab al-khutbah ayyamma Mina, hadist no.1739
5 Fath al bar, jilid 3 hak 653
6 dikutip dari majalah Tarbawi edisi Mei 2011 yang ditulis oleh Aldil heryana, S.sol (ketua dewan Pembina yayasan Pendidikan, Dakwah dan social sahabat Instant, Staf Departemen Dakwah PP PUI, aktif sebagai dai di berbaga pelosok negeri)