Assalamu’alaikum. Salam bangga untuk teman-teman Beasiswa Prestatif dimanapun kalian berada. Ini dari Yuni yang akan mendampingi Sahabat semua dalam pembinaan Beastudi Prestatif  DPU DT. InsyaAllah pembinan kelompok teman-teman akan dimulai pekan ini, adakah usulan hari..? Saya tunggu answer teman-teman.. ^_^ Wassalamau’alaikum.”
Lama SMS dikirimkan, tapi tak kunjung ada balasan. Menunggu dan menunggu, hingga sore menjelang maghrib, padahal sejak siang sebelumnya SMS sudah disebar. Finnaly, ada yang konfirmasi, satu orang, itupun sebuah perizinan, karena beliau ada training dari sekolahnya. Tak apalah, pikir saya mungkin besok juga ada balasan. Dan benar keesokan harinya, siang dan sore dua anak membalas, “Mbak, saya xxx usul hari Sabtu. Sayapun membalas, ”OK, saya tampung dulu usulnya.” Kemudian ada yang membalas lagi, ”Mbak saya yyy usul hari Jum’at.” Dan sayapun membalas dengan jawaban yang sama, ”OK, saya tampung dulu usulnya.”
Setelah membuat voting penentuan hari pendampingan, akhirnya hari disepakati juga. Jumat, pekan kedua Maret menjadi pertemuan perdana kelompok ini. Waktu yang disepakati pukul 16.00 dimulai. Sebagai awal pertemuan dalam halaqoh, sengaja saya fokuskan sebagai ajang ta’arufan agar lebih mengenal dan harapannya muncul keterbukaan sebagai bentuk mengamalkan disiplin ilmu saya, Psikologi, sengaja saya memakai teknik Building Rapport yang merupakan metode baku dalam memulai penggalian data dengan wawancara terhadap subyek, yang saya sampaikan dengan panjang lebar dan tak lupa menyebutkan identitas saya pribadi, sampai kondisi orang tua saya sekarang bahkan juga hobi, kebiasaan, dan ukuran sepatu saya. Dalam hati saya tersenyum sendiri karena sesuai tebakan saya, anak-anak kelas 10 ini mungkin bertanya-tanya dengan bentuk salah tingkah mereka, ”Kok ta’arufnya panjang banget sih, sampai ukuran sepatu segala.” Nah, akhirnya, cara saya menyampaikan identitas sesuai dengan harapan, yakni menjadi imitasi kelompok, karena anak-anak kelas 10 ini yang sebelumnya mereka bayangkan sesuai cerita mereka, bahwa proses kenalan hanya sekedar menyebutkan nama, alamat, tanggal lahir, dan kelas saja, terhapus sudah bahwa sebuah proses ta’aruf tak sekedar itu saja.
Sedikit pengalaman dan hikmah yang berusaha saya ambil dari proses pendampingan yang berjalan dua kali kemarin adalah, seringnya kita terlupa dengan makna indah Al Ukhuwah Islamiyah dalam agama kita. Ketika Rasul menyampaikan bahwa pengibaratan dalam persaudaraan kita seperti kesatuan tubuh, dan apabila satu bagian luka, maka bagian tubuh lain juga turut merasakan nyerinya.
Mengingat kembali bagan ukhuwah dan mengaplikasikan dengan harapan komunikasi antara pembina dan yang dibina, bahwa dalam bentuk hubungan terdapat dua macam;
y              Personal
y              Kolektif
Penggabungan dari dua unsur tersebut kemudian menyatu dengan sebuah proses yang biasa kita sebut sebagai kenalan. Dan dalam tahap inilah pertama kali hubungan ini dimulai, yakni dalam lingkup kolektif sebagai anak peserta Beaprestatif DPU DT yang kemudian bergerak menjadi hubungan personal antara pembina dan yang dibina,  yang tentu sesuai dengan kaidah Islam hingga tak melanggar batasan. Seperti berlebihan dalam hal komunikasi hingga mengaburkan makna pendampingan dan yang didampingi itu sendiri.
Kemudian melihat kembali bagan ukhuwah yang sekarang sedang proses berjalan adalah adanya sikap saling memahami, memahami antar pembina dan yang dibina. Demikian pula yang saat ini coba saya tekankan kepada teman-teman penerima Beaprestatif di halaqoh saya. Memahami kondisi peserta yang ketika berangkat terlambat, memahami peserta yang untuk tilawah masih sangat terbata-bata, memahami peserta yang untuk berpenampilan masuk dalam klasifikasi masih terbuka dalam menjaga aurat. Dan tidak langsung menjudgement mereka;”anak ini kurang sopan-santun dan sebagainya!” Tidak, tidak demikian.. Karena dengan rasa attafahum yang tulus dari hati tentu akan melahirkan tahapan ukhuwah selanjutnya, yakni atta’awun atau saling menolong, dan ketika atta’awun terpenuhi, maka ia akan bergerak lagi menuju bagan yang terus meninggi, yakni attakaful atau saling menanggung beban. Dan kemudian terus bergerak lagi sampai kadang ketika makna ukhuwah hidup dalam jiwa seseorang akan terlihat seperti irrasional, karena puncak dari ukhuwah adalah it-sar (mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri). Sebagaimana ketika kita mengingat sejarah yang pernah disampaikan imam Qurthubi, yang dari beliau sendiri menyebutkan bahwa Al Adawi mengatakan;”Pada hari peperangan Yarmuk, aku pergi membawa sedikit air dan mencari saudara sepupuku di front. Hatiku berfirasat, jikalau nanti saudara sepupuku dahaga, maka air ini akan aku berikan padanya. Akupun berjumpa dengannya, lalu kukatakan padanya;”Aku membawa sedikit air untuk memberimu minum.” Sepupuku menganggukkan kepalanya, tapi tiba-tiba ia mendengar seseorang disebelahnya merintih. Sepupuku tidak jadi meminum air itu. Lalu ia mengisyaratkan agar aku memberikan minum itu ke sahabat yang merintih tadi. Kemudian aku-pun menuju orang itu, ternyata dia adalah Hisyam bin Al ‘Ash. Kukatakan kepada Hisyam;”Ini aku bawakan sedikit air minum untukmu.” Ketika dia akan minum, terdengarlah rintihan sahabatnya yang lain yang tak jauh darinya. Dan Hisyampun tak jadi meminumnya dan mengisyaratkan padaku agar aku memberikan minum itu kepada sahabat yang merintih tadi. Tetapi, sebelum aku sampai pada sahabat yang merintih itu untuk memberikan minum ini, dia sudah syahid. Maka aku segera menuju Hisyam, namun dia juga syahid. Akhirnya aku segera lari menuju sepupuku, namun kudapati ia juga sudah syahid.. Tiada seseorang pun yang sempat meminum air yang aku bawa, karena masing-masing dari mereka mengutamakan sahabatnya dari dirinya sendiri, padahal dirinya sendiri sangat membutuhkan.”
Al Ukhuwah Islamiyah, Friendship and Brotherhood in Small Circle. Menjadi awal untuk memulai pertalian, sebagai peserta dan pembina, pendamping dan yang didampingi, atau apalah biasa kita menyebutnya, haruslah kita wujudkan sebagai penanaman dalam kajian tugas kita. Karena ketika mencoba renungkan lagi, bahwa pada dasarnya tugas kita saat ini dengan mendampingi merupakan misi indah yang jika kita tulus menjalaninya, maka alasan kita untuk memohon ridhaNya adalah mendasar sebab kita berupaya mendekatkan diri padaNya. Dan tidak seperti orang yang pernah Rasul sampaikan tentang seseorang yang datang memohon kepada Allah;”Ya Rabb, Ya Rabb, Ya Rabb..” sementara tubuhnya bau, pakaiannya bau, rambutnya bau, dan tak ada barang yang halal dari dirinya. Lalu, bagaimana mungkin Allah mengabulkan do’anya???
Pendampingan Beaprestatif DPU DT, sebagai sarana pengembangan diri bagi penerima Beamandiri untuk benar-benar mandiri. Wallahua’lam.