Sebuah Tulisan Hasil Dari Program Pendampingan Masyarakat
DPU-Daruut Tauhiid Yogyakarta
Oleh ;
Riyadi Suryana ( Anggota Bea-Mandiri ke-VI DPU-DT  Yogyakarta )
DOMPET PEDULI UMAT DARUUT TAUHIID
YOGYAKARTA
2012
  1. PENDAHULUAN
Melihat masih banyaknya sumber daya manusia yang masih belum terberdayakan, perlulah menjadi kepedulian kita bersama. Seperti halnya anak usia dini yang semestinya duduk manis di bangku sekolah, memegang sebuah pena, menulis tuk mengukir prestasi satu demi satu, mengukir sejarah kegemilangan hidup dimasa yang akan datang, bukanlah berdiri di samping trotoar lampu merah, memebawa gitar bengkok yang ia gunakan tuk menyambung hidup. Demikian pula dengan para Ibu yang tergolong masih masuk usia produktif, semestinya mampu memberdayakan diri mereka dengan baik. Bisa dengan mengurus, mendidik para putra-putrinya di rumah, dengan sesekali membantu sang suamai dalam mencukupi kebutuhan hidup keluar, bukanlah sebaliknya jalan-jalan dari rumah kerumah mengharap kasih payah seperak rupiah.
Hal seperti itu hendaknya tidak akan terjadi ketika tiap individu dari kita bersama-sama membantu mereka, setidaknya dorongan moral, motifasi tidak pun harus dalam bentuk materi. Lebih jauh dari sebenarnya kita mampu, kita telah memiliki berbagai wadah guna membantu memberdayakan saudara-saudara kita yang membutuhkan pemberdayaan. Hanya saja barangkali kita belum maksimal dalam mengisi wadah – wadah yang telah ada tersebut, agar wadah yang telah ada itu bisa berjalan sebagai mana harapannya.
Permasalahan apa yang membuat saudar-saudara kita itu kurang terberdayakan ? kondisi lapangan masyarakat yang sedang berupaya dalam mengembangkan potensi diri mereka, Bagaimana solusi strategis terkait permasalahan yang muncul itu ? Hal-hal itulah barangkalai yang akan menjadi focus kajian penulis dalam tulisan ini.
  1. PERMASALAHAN  KURANG  TERBEDAYAKANNYA  MASYARAKAT
Sosialisasi nampaknya menjadi salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam proses baiknya pemberdayaan masyarakat. Banyak masyarakat yang bingung harus berbuat apa dalam menghadapi permasalahan hidup yang mereka alami, alhasil banyak dari mereka yang berinisiatif meminta-minta sebagai akibat kebiasaan mereka yang senantisa mendapatkan permanjaan bantuan tatkala menghadapi masalah. Alhasil setelah bantuan hidup itu habis dan mereka minim skil, tidak terlalu banyak yang mereka bisa lakuakan dan memutuskan untuk melakukan tindakan meminta-minta baik dijalanan maupun dari rumah-kerumah.
Keterbatasan yang dimilki pihak-pihak penyelenggara pemberdayaan masyarakat juga perlu untuk dilihat pula. Masih ada lini-lini yang tentunya sangatlah membutuhkan bantuan baik dari sumber daya manusianya itu sendiri maupun materi secara langsung. Disadari tidak dissdarai, dialui maupun tidak masyarakat kita (umat muslim) masih perlu diuprak-uprak untuk bisa aktif berkontribusi dalam pemberfdayaan masyarakat.
Seperti yang telah disinggung diatas, bahwasannya kadar respon, kepedulianm asyarakat juga dinilai masih cukup rendah. Barangkali masyarakat beranggapan bahwa, jangankan untuk member orang lain, untuk memenuhu kebutuhan diri sendiri saja belum cukup missal. Jelas lah tidak akan pernah akan ada cukupnya, justru sebaliknya penulis berargumen leak dari kecukupannya itu ialah ketika rizki yang ada itu benar-benar di syukuri dan saling di berbagikan dengan sesame, disanalah titik puncak kenikmatan kecukupan itu.
  1. KONDISI LAPANGAN MASYARAKAT PELAKU PEMBERDAYAAN
Jika melihat dari kesemangatan masyarakat yang sedang berupaya memberdayakan dirinya, sangatlah bisa dikatakan memiliki jiwa semangat tingi yang luar biasa, terlebih ketika musim panen tiba, dimana kondisi keluarga sedang sibuk-sibuknya namun mereka tetap melakukan agenda pemberdayaan yang telah dibuat, sungguh sebuah jiwa kesemangatan yang amat tinggi. Bukan hal yang non logis tentunya, disebabkan minimnya pengalaman yang merekadapatkan, terlebih jika kita berusaha untuk meninjaunya lebih mendalam, bagaimana riwayat hidupnya, kebanyakan dari mereka ialah masyarakat yang minim pengalaman pendidikan formal, sejak kecil langsung diperkenalkan dengan hal-hal pemenuhan kebutuhan hidup. Akhirnya ketika masyarakat diperkenalkan dengan materi-materi pemberdayaan yang sekilas seperti orang perkuliahan ada rasa kebahagiaan tersendiri.
Setelah masyarakat merasa nyaman, mulai tmbuh dari mereka untuk menumbuhkan jiwa komitmen yang cukup kuat. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas sebenarnya untuk contohnya diaman ketika mereka sedang disibukan oleh masa-masa panen, anmun mereka tetp komitmen untuk melaksanakan program yang telah dibuat, penulis rasa hal ini dapat menggambarkan bagaiamana jiwa komiten masyarakat peserta pemmberdayaan.
Lebih jauh, kondisi lapangan yang terjadi, sangat disadrai atau diakui sekali ketika berikutnya muncul titik kejenuhan. Hal-hal seperti ini memang sebuah normal science hasil dari kegiatan-kegiatan yang telah tangkap peserta pemberdayaan dari apa yang telah dilakukan bersama dengan pembimbingnya tentunya. Kondisi kejenuhan ini juga bisa terjadi denagn serempak, akhirnya memngurangi kelancaran dari program pemberdayaan yang telah disusun, sebab proses tranformasi poengetahuan itu akan tertahan atau tertahan bahkan tak tersampaikan dengan sempurna pada peserta pemberdayaan itu sendiri.
  1. SOLUSI DARI BERBAGAI PERMASALAHAN YANG MUNCUL
Untuk solusi yang bisa ditawarkan atau bisa dilakukan terkait permasalahan ini ialah dengan upaya evaluasi terhadap sosialisasi program yang telah dilakukan, sejauh mana sosialisasi itu dilakukan, kendala apa yang dihadapi atau didapat dalam sosialisasi itu. Maka dengan upaya evaluasi sosialisasi itu diharapkan adanya peningkatan dari waktu kewaktu dan harapannya program itu bisa kena ke nasyarakat dan masyarakat pun sebaliknya mau merespon dengan menerima, baik kalangan subjek maupun objek program pembinaan tersebut.
Upaya penempatan berbagai bantuanpun rasanya perlu dibenahi, jangan sampai bantuan yang seharusnya memberdayakan malah membuat karakter masyarakat yang bergantung pada pemberian atau bantuan, yang akhirnya ketika bantuan itu tak ada  tidak bisa banyak yang bisa mereka lakukan kecuali meminta-minta.
Terkait berbagai masalah yang muncul dilapangan seperti halnya munculnya titik kejenuhan, jelas perlu dicariakan solusinya dan salah satunya yakni dengan melakukan pembuatan inofasi program yang dapat mengurangi titik-titik kejenuhan itu, missal dengan program-program praktek lapangan, masak-masak kalo peserta pemberdayaannya Ibu-ibu, memasukan cerita-cerita motifasi/penyemangat, hiburan dan lain sebagainya. Dari upaya-upaya seperti diharapkan program pemberdayaan itu bisa maksimalkan dan haraopan yang telah diharapkan bisa terwujud.
  1. KESIMPULAN
Dari kajian dan pengamatan yang telah dilakukan penulis maka ada secercik kata yang bisa di tulis dipenghujung tulisan ini. Secercik kata itu ialah; Sebagai manusia muslim yang tumbuh di kompilasi hidup, permasalahan yang kompleks hendaknya kita banyak-banyak bersabar. Kita memiliki pilihan hendak menjadi sosok muslim yang peduli terhadap permasalahan yang serta dengan membimbing diri agar tetap berada dalam Dien yang benar yang nantinya tergolong pada generasi umat yang baik, atau cuke terhadap permasalahan yang ada serta mengejar kebutuhan hidup pribadi tanpa melihat disekeliling kita yang akhirnya akan membentuk karakter yang individualis dan tergolong umat yang kurang bersaudara. Hal-hal seperti itu tentunya kita diberikan keleluasaan untuk memilihnya, namun perlu diingat ketika pilihan kita baik dan dilaksanakan maka hal itu akan berdampak luar biasa, sebab dilaksanakan di situasi dan kondisi yang amat kompleks, namun sebaliknya ketika pilihan kita kurang tepat maka jaman ini akan membawa kita pada pemusnahan yang tak disadari pergerakannya.
Wallohu A’lam……………..