Kalau kita melihat realita sekarang, banyak dari anak bangsa kita Indonesia sangat masih terkukung dari bagaimana mereka harus mengembangkan potensi dirinya baik dalam ranah formal maupun informal, yang tidak lain hanya karena keadaan ekonomi. Sehingga apa yang terjadi, banyak sekali pengangguran yang mengakibatkan semakin banyaknya jumlah TKI. misalnya saja ditempat saya Lombok Nusa Tenggara Barat, rata-rata pendidikan mereka hanya sampai pada tingkat SMA saja dan tidak melamjutkan studinya. Namun semua itu tidak terlepas dari berbagai factor;
  1. Masih minimnya ekonomi keluarga. Dengan keminiman ini mereka merasa ragu untuk mengambil sebuah tindakan dan resiko tertentu terhadap tagihan biaya pendidikan yang semakin tahun semakin meningkat biayanya.
  2. Masih kurangnya kesadaran dari para orang tua akan pentingnya pendidikan, yang mengakibatkan kejangalan-kesenjangan social yang menjadi pemicu dari lemahnya motivasi sang anak.
  3. Kurangnya refrensi atau buku rujukan yang bisa menginspirasi kesadaran mereka untuk berfikir ke depan khususnya bangi mereka yang memang asalnya dari pedesaan terpencil. Yang mengakibatkan mereka memandang pendidikan sebagai suatu hal yang sangat tidak berguna, yang berujungkan putus sekolah di usia dini.
  4. Kurangnya infrastruktur dan birokrasi yang menitik beratkan pendidikan sebagai sentral kemajuan sebuah daerah, shingga membuat mereka berpikir pendek akan janji dari pendidikan itu sendiri.
Saya kira untuk menjawab semua itu tidak lain lagi yaitu bagaimana peran seorang pemerintah untuk lebih memperhatikan aspek pendidikan bagi mereka yang masih terbatas oleh factor diatas. Namun kita juga perlu tahu bahwasanya semua itu tidak harus pemerintah yang menangani. Namun bagimana kita sebagai ummat beragama islam memandang ketimpangan yang ada pada masyarakat tersebut. Kita tahu bahwa kewajiban zakat bagi umat islam sudah barang tentu menjadi solusi dari semua itu. Dan zakat seperti kita ketahui dari kita duduk di bangku MI sampai sekarang bahwa kemusliman seseorang tergambar sejauh mana menjalankan rukun islam itu sendiri, dan zakat juga termasuk didalamnya. Lalu pertanyaannya bagimna korelasi zakat terhadap permasalahan diatas? Maka untuk menjawab hal itu pertama kita kembali kepada pungsi zakat sendiri baik dalam kontek zaman nabi hingga saat ini yaitu lebuh kepada pemberdayaan ummat bukan sekedar memberi sesuatu kepada si penerima zakat, namun kita perlu tahu subtansi dari zakat itu sendiri. Kedua kita melihat dari perspektif social yang ada, dalam artian bagaimana mengelola zakat itu untuk jangka panjang dan tidak terlalu singkat.
 Jadi kita tidak hanya berkomentar dan harus menunggu pemerintah  menangani semua itu. tenyata  zakat ummat islam biasa dijadika salah satu solusi dari masalah tersebut.
  1. Memberikan kesadaran kepada ummat begitu pentingnya zakat bagi ummat islam.
  2. Zakat harus di kelola dengan baik, mengumpulkan jadi satu, untuk menjadikan modal usaha kepada mereka penerima zakat.
  3. Melalui zakat dan dengan metode yang kedua tadi diatas biasa dijadikan  solusi untuk mengembangkan keilmuannya para penerima zakat melalui beasiswa
  4.  Antara amil zakat harus bias berkorelasi dengan pemerintah untuk bagaimana memberdayakan umat  dan dari pemerintah dengan amil sendiri harus mempunyai titik focus tersendiri dalam penaganan dalam setiap permasalahan.
Inilah yang saya teliti selama ini bahwa rernyata beasiswa prestatif dari program DPU-DT ini sangat memberi solusi terhadap permasalahan di atas yang dimana Beasiswa prestatif ini merupakan program beasiswa DPU-DT terhadap siswa-siswi yang duduk di bangku SD sampai tingkat SMA, dan bukan hanya itu namun mereka juga memenejmenkan zakat sangat baik terlihat dari bagaimana seorang amil mengelola zakat sebagai modal usaha dan peluang kerja yang nantinya bisa mengurangi pengangguran. Dan semua itu harus ada timbal baliknya dalam arti, misalnya beasiswa yang biasanya hanya di berikan saja namun disini bagimana dengan beasiswa itu memancing power mereka untuk lebih semangat dan berkarya. Dalam hal modal usaha, jadi ketika pengasihan modal usaha itu berjalan dengan baik maka setidaknya ada pembagian untung dari seorang muzakki terhadap amil itu sendiri. Sehingga dengan adanya system yang seperti itu akan bisa memutar zakat tersebut menjadi sekala lebih besar sehingga dapat memberikan kesempatan kepada orang lain yang dibelum mendapatkannya.
oleh Irawan ( Santri Beasiswa Mandiri Angkatan 6