BUNGA HATI Dikegelapan malam,
sepercik bias kasih memancar,
walau auh samar-samar,
cahaya kasihMu,
mampu membuat teduh hati luluh,
telah sirami bersemi bunga yang layu,
merenda mimpi,
hiasi pelangi hati,
derita nestapa,
bergulir bahagia,
tetep genggam  tangan ini,
tuk ukir bunga hati,
terima kasih Tuhan..
masih Engkau beri kesempatan,
hidupkan cinta yang telah lama mati,
Inilah remajaku, sebuah artikel yang  dibuat sebagai evaluasi pendampingan Bea Prestatif DPU DT Yogyakarta. Mengutip sebuah puisi yang menyampaikan kondisi perkembangan rasa agama seorang remaja, saya berusaha membidik tema  bahwa remaja yang sering dikatakan sebagai masa pencarian jati diri tentu sangat membutuhkan perhatian khusus untuk meningkatkan nilai-nilai yang dalam realita terlihat memudar.
Namun sebelumnya, dengan melihat tahapan remaja dari perspektif psikologi perkembangan  hingga kemudian mencoba hubungkan perkembangan remaja dalam islam lewat siroh para sahabat, akan lebih baik jika melihat sejenak kondisi pendampingan DPU DT di SMK Muh Berbah. Terdiri dari 4 siswi jurusan tata busana kelas 10 dengan keunikan yang berbeda-beda, ada yang terlihat dari gaya bicaranya menunjukkan  rasa keingin tahuan mendalam lewat kontak mata yang menandakan ‘kehadiran’nya diforum serta cerita-ceritanya  terkait kondisi keagamaan disekitar lingkungannya, atau juga bahkan ada yang  hanya diam saja mendengarkan namun here and now-nya tak ada, karena jemarinya terkadang  justru sibuk dengan HP atau sesekali melihat pendamping kemudian melihat kearah teman yang lain. Atau juga dari salah satu peserta yang terkadang berangkat dengan diantar teman laki-lakinya yang setelah dikonfirmasi jelas bukan saudaranya..
Inilah remaja, walau menjadi kewajiban mereka sebagai peserta beasiswa, tapi tak bisa kita memaksa secara mutlak agar mereka  tunduk dan patuh dengan peraturan pendampingan. Mendengarkan pendamping yang menyampaikan materi dan khusyu’ kepada materi yang disampaikan. Karena remaja sering disebut sebagai masa transisi kehidupan. Tentu kita yang sudah melampaui masa remaja akan sedikit terbanyang dengan bagaimana kita waktu SMP hingga SMA lalu, mengalami masa dimana kita tak mau disebut anak-anak tetapi jika dikatakan dewasa juga belum. Atau bahkan, sebagaian dari kita justru akan berkata;”sejak SMP saya sudah belajar mencari uang sendiri, sehingga faham dengan kesulitan ekonomi.” No...! sedikit saya mengingat nasehat Rasulullah dalam mengasuh anak, walau lupa redaksinya tapi intinya bahwa anak kita bukanlah anak kita, melainkan anak kita adalah anak zaman. Maksud dari nasehat ini adalah kita menyesuaikan pendidikan anak dengan zaman dimana ia dibesarkan, dan tidak kemudian menyamakan proses pendidikan mereka dengan apa yang telah kita rasakan. Sebagaimana kata Hurlock yang seorang Psikolog Perkembangan menyampaikan, remaja adalah masa belajar menyesuaikan diri terhadap pola – pola hidup baru, belajar untuk memiliki cita – cita yang tinggi, mencari identitas diri dan pada usia kematangannya mulai belajar memantapkan identitas diri. Namun dari pola-pola itu, ada pola emosi remaja yang ternyata dari polanya tak jauh dari pola perkembangan emosi anak-anak. Yakni amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang. Hanya perbedaannya terletak dari rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat mereka, khususnya pada pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Misalnya, perlakuan sebagai anak kecil, atau secara tidak adil membuat mereka sangat marah dibandingkan dengan hal-hal lain.
Dari hal inilah yang sebenarnya lebih menjadi bahan renungan saya pribadi, sebagai pendamping Bea Prestatif karena peserta beasiswa yang usianya adalah menginjak tahap remaja tengah, untuk lebih memahami mereka dengan bahasa cinta sebagai sahabat. Karena melihat mereka, tentu kita tak lepas dengan kaidah yang ada bahwa mereka adalah generasi penerus kita yang nantinya akan mengatur segala urusan hidup, karena merekalah estafet perjuangan dakwah.
Evaluasi untuk perbaikan, dengan mengingat sirah Usamah bin Zaid bin Haritsah. Sosok yang bisa dikatakan masih fase remaja akhir karena umurnya baru 20 tahun itupun telah mampu menjadi seorang panglima perang melawan kekuasaan Tiran Romawi yang telah membunuh salah satu kepala daerah Ma’an dan sekitarnya yang diangkat kaisar Romawi, karena kepala daerah itu ketahuan masuk Islam.. Dialah  Farwah bin Umar al-Judzami.  Para penguasa Romawi marah dan segera menangkap Farwah untuk dipenjara hingga akhirnya membunuhnya. Ia dibunuh dengan kepalanya dipancung, lalu diletakkan disebuah mata air bernama Arfa’ yang terletak di Palestina, dan mayatnya disalib untuk menakut-nakuti penduduk agar tidak mengikuti jejaknya.
Hingga akhirnya dari hal ini Rasulullah mengangkat Usamah menjadi panglima perang untuk memerangi pemerintah Romawi yang telah membunuh salah satu kaum Muslim, dimana salah satu dari prajuritnya adalah Umar bin Khattab. Subhanallah... Rasulullah bersabda;“Wahai sekalian manusia, saya mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah, demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah, Zaid sangat pantas memegang kepemimpinan, begitu juga dengan putranya, Usamah. Kalau ayahnya sangat saya kasihi, maka putranya pun demikian. Mereka adalah orang yang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga adalah sebaik-baik manusia di antara kalian.”
Maka berangkatlah pasukan ini, dalam nuansa kesedihan karena setelah pengangkatan itu Rasulullah wafat yang kemudian kepemimpinan digantikan Abu Bakar Ash Shiddiq, Abu Bakar mengantarkan langsung sang komandan Usamah. Melihat nuansa itu, sebagai bentuk penghormatan Abu Bakar terhadap keberanian seorang Usamah, Abu Bakar berjalan kaki memegang tali kuda komandan sementara komandan menaiki kudanya. Hingga Usamah merasa canggung karena khalifah berjalan kaki sementara dirinya naik kuda.
Kata Usamah, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki. Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! saya tidak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor, sementara mengantar engkau berjuang fisabilillah! Saya titipkan kamu, agama mu, kesetiaan mu, dan kesudahan perjuangan mu kepada Allah. Saya berwasiat kepada mu, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!”
Kemudian dibalas oleh Usamah dengan jawaban yang penuh makna, “Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanatmu juga penghujung amalmu dan aku berwasiat kepadamu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah.”
Kemudian, Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Katanya, “Jika engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya. Usamah kemudian mengizinkannya.
Subhanallah.. belajar kehebatan dari salah satu sahabat Rasulullah tentang keberanian di usia remaja yang telah matang. Menjadi harapan besar, bahkan sangat besar.. akan generasi remaja bangsa ini yang merupakan generasi harapan Islam pula dalam menyampaikan nilai-nilai agama. Inilah sebuah evaluasi, sebuah renungan pribadi memaknai amanah pendampingan. Tak sekedar pendampingan untuk memenuhi kewajiban, tapi inilah sarana dakwah untuk menyampaikan kebenaran itu. Agar nantinya output yang didapat bisa mencetak sosok-sosok Usamah lain yang memiliki keberanian baja melawan kemungkaran yang ada. Wallahua’lam.